Showing posts with label my thoughts. Show all posts
Showing posts with label my thoughts. Show all posts

Saturday, November 28, 2015

SEBUAH KARYA SENI TERSEMBUNYI DALAM MEDIA JALAN YANG DI COR ASAL JADI

Pagi ini nyapu jalan, mendapati karya seni yang emejing banget, hasil karya tenaga kontraktor yang memenangkan tender pengecoran jalan. Selama ini saya belum pernah menemukan karya seni kolase yang di jabarkan dalam media cor cor an.
Berbagai material tertanam di sana, ada sobekan kertas katalog salah satu supermarket, dedaunan, plastik kemasan makanan, dan kemasan minuman gelas lengkap dengan sedotannya. Mungkin nanti bakal ditemukan hasil cor cor an berupa karya seni tiga dimensi seperti milik Nyoman Nuarta atau semirip karya seni instalasi nya Isa Perkasa, siapa tahu kan ya?

Tersebutlah sebuah bentuk yang dibuat oleh ban truk di depan Toko si Tante. Bila bentuk seperti itu ada di Pameran karya seni pasti bakal banyak yang mengagumi. Tapi yang ini ada di pinggir jalan, di mana orang, kuda, motor dan mobil hilir mudik tak peduli. Selain gak Indah, hal itu jadi bikin keki pejalan kaki.

Nuasa asal asalan tercetak jelas dari hasil karya para pekerja yang entah darimana asalnya. Ada yang permukaan jalan di tengahnya menjadi lebih rendah dari pinggirannya yang membuat air menggenang dengan sempurna. Ada juga selokan yang ikut ketumpahan semen plus batu kerikilnya. Kerikil kerikil tajam bisa jadi judul film yang bercerita tentang kebobrokan moral, lha kalo yang ini bisa jadi judul apa? Judul acara banjir akibat kebobrokan kerja seseorang? Ah hanya sekedar bertanya saja. *nyontek kata kata pak Aris hihi.

Kabarnya sih, ini hanya permulaan saja, kedepannya semua jalan akan di beton atau sebangsanya. Gak tahu juga lah juntrungannya mau bagaimana, karena sepanjang karir saya gaul sama anak sipil gak pernah ngobrolin bagaimana tata cara bikin jalan yang baik dan benar untuk sebuah desa.

Saya gak tahu pasti, ini proyekan nya siapa? Tapi banyak yang menduga ini adalah kerjaan bupati petahana. Entah dalam rangka menghabiskan anggaran, entah untuk menyambut pilkada. Yang ngeselin nya adalah kenapa baru sekarang di kerjakannya, kala musim penghujan telah tiba. Cor cor an jadi lama kering nya, malah bikin becek daerah sekitarnya. Debu berkumpul secara membabi buta, di tiup angin muson barat aduhai sedapnya.

Hanya satu permintaan dari lubuk hati yang terdalam, bagusin jalan jangan banyak liburnya. Jangan asal asalan bekerjanya, kan uangnya riil, ada di depan mata. Tajong.

Maap, darting.

Sekian, bye.

posted from Bloggeroid

Thursday, November 26, 2015

APA YANG DI TANAM ITULAH YANG DI TUAI

Bos saya dulu hobi banget merekrut karyawan bagian produksi dan turunannya yang berusia sangat muda. Saking belia nya ngelap ingus aja belum bisa. Mungkin, dia merasa iba dengan anak anak putus sekolah itu dan ingin memberikan kehidupan yang lebih bermakna, padahal mah karena bisa di bayar murah aja. Kabar buruknya, upah murah berbanding lurus dengan kualitas kerja. Saya sering di buat bete karenanya. Mereka hanya mampu mencerna satu buah perintah saja, karena bila ada dua apalagi lebih, pasti sisanya bakal lupa. Wajar sih, lha wong otaknya gak pernah diajak berlatih semenjak memutuskan untuk berhenti mengenyam bangku sekolah dan memilih untuk bekerja. Alasan berhenti sekolah klise saja, karena gak punya biaya. Ada salah satu yang sering saya ajak bicara. Bila sedang iseng saya kerap bertanya, mau kerja dimana kalo kira kira kena PHK? Jawabnya mudah saja, mau jadi tukang becak katanya.

Yang malesin nya adalah ketika ia mengeluh karena upah yang di dapat menurutnya tak sebanding dengan tenaga yang di hela. Sedangkan beban hidup semakin merajalela karena ia memutuskan untuk menikah muda. Entah enam atau tujuh belas tahun usianya saat ia dengan bangga bercerita bahwa ia telah meminang seorang dara yang sama belianya, sementara anak lain seusianya sedang giat belajar di bangku SMA. Bila saya tanya kenapa memutuskan untuk cepat menikah, dengan ringan ia menjawab, karena tidak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan disamping bekerja. Jadi lebih baik menikah saja, sebagai hiburan ketika bosan dengan rutinitas kerja. Boro boro memikirkan cita cita, sekedar hobi saja ia tak punya.

Awal pernikahan, cerita manis kerap meluncur dari bibirnya. Tapi itu tak berlangsung lama karena selebihnya, curhatannya terdengar sungguh merana. Putra pertama lahir ke dunia, membawa kegembiraan bagi ayah, ibu, besan dan mertua. Persalinannya sedikit berkendala karena sang Ibu muda memang belum cukup usia.

Dengan tambahan satu orang anggota keluarga, tentu saja upah yang di terima bagaikan sesuatu yang hampa. Bukannya giat bekerja dan mencari peluang kerja lainnya, semangat kerjanya malah mengendur beberapa tingkat dari biasanya. Alasannya karena si bos tak jua menaikan upahnya. Bagaimana mau menaikan upah, lha kemampuannya aja cuma segitunya. Etos kerja jangan di tanya, merosot tajam karena semangat kerjanya telah menguap entah kemana, berganti dengan keluh kesah akan kehidupan berkeluarga yang dulu ia kira akan selalu bahagia.

Dua tahun sudah usia putranya ketika ia memutuskan untuk berpisah dengan istrinya. Saya tidak tahu pasti mengapa mereka berpisah. Sang istri pulang kembali ke rumah orangtuanya dengan membawa serta satu orang anggota keluarga. Kakek nenek yang mulanya bangga akan anaknya yang telah memberi mereka cucu akhirnya hanya bisa mengurut dada. Anak yang dulu di nikahkan segera untuk mengurangi beban keluarga, kini malah memberi tambahan daftar biaya. Orang tuanya gak bisa menyalahkan siapa siapa, karena ini semua terjadi atas ijin mereka. Ijin untuk membiarkan anaknya berhenti bersekolah karena alasan ketiadaan biaya dengan akhir yang terasa mengiris dada.

Akhir kata, jadi orang tua dilarang egois dengan mengharapkan lebih dari anak anaknya, bila kewajiban memberi pendidikan yang baik aja masih jadi tanda tanya. Pada dasarnya, apa yang di tanam, itulah yang di tuai.

Sekian.

Nb : paling malesin kalo ada ibuk ibuk yang bilang "Anak saya mah udah laku, udah ada yang mau"
Ish Ish Ish jualan ya? Di jual berapa anaknya? Yang pedes karetnya dua ya?
posted from Bloggeroid

Tuesday, November 10, 2015

HATI HATI BILA MEMBELI BUAH

Tiap kali melewati perempatan Jalan Kopo - Soekarno Hatta, tak terasa mulut ini menganga nyaris ngacay di buatnya. Bukan karena ada yang jual kaos kaki sepuluh ribu tiga, bukan juga karena wangi masakan padang dari dua rumah makan yang berbeda, bukan pula karena melihat pengamen yang sedang ngitung uang di bawah pohon yang terlihat rindang tapi merana. Atau karena melihat kelakuan pengendara sepeda motor yang blingsatan ngibrit saat lampu merah masih menyala, dan bukan pula karena ada pengendara mobil yang gak sabaran, membunyikan klakson tepat ketika lampu hijau baru saja bersua, nu eta mah membuat sayah ngacay hayang nakol.

Yang membuat saya ngacay adalah gerombolan orang yang tengah mengerubuti sebuah toko buah, yang pahibut suasananya, antara ragam buah buahan dan berbagai macam orang yang membelinya.

Bila dilihat dari banyaknya pengunjung, saya menduga pasti harganya murah pisan. Tapi nyatanya, begitu mata ini berhasil berakomodasi dengan baik, harga yang tertera di lembaran dus yang digantung terombang ambing kesana kemari itu, gak murah murah amat. Tapi memang ada beberapa buah yang terlihat di paketkan, tah pasti yang model begini lah yang jadi primadonanya. Padahal bila dicermati, buah yang di paket itu, misalnya satu paket seharga 5 ribu rupiah, bila beli kiloan ya sama saja harganya. Tapi memang gak bisa di pungkiri kedahsyatan dari harga limaribuan itu dalam hal menciptakan kerumunan.

Banyak cara pedagang buah dalam hal menarik pembeli walau caranya kadang bikin kheki. Seperti hal nya yang dilakukan para pedagang buah di sekitaran tegalega. Di setiap gerobak yang mereka pajang tertera harga dengan tulisan sangat badag yang membuat tertarik banyak orang, karena harga yang tertulis di situ memang sungguh mencengangkan. Tapi jangan kaget, bila di akhir acara sang pedagang menyebutkan jumlah nominal yang harus di bayar menjadi dua kali lipat dari harga yang tertera. Karena ternyata di bawah tulisan segede gambreng itu, nyempil sebuah bilangan pecahan, yaitu 1/2. Mau protes, ya gak bisa, kan memang tulisan nya ada walaupun kecil banget. Lain kali kalo lewat tegalega harus bawa kaca pembesar ala Sherlock Holmes, biar gak kena jebakan betmen, supermen, spidermen dan sarupaning konco konconya.

Saya sering melihat pedagang jambu batu merah di pinggir jalan. Di antara gundukan jambu jambunya, ada satu buah jambu yang telah di belek untuk memperlihatkan dalemannya. Warna daging jambu yang telah di buka itu sangat menyilaukan mata. Merah banget sampai bikin mata sepet. Pengennya sih percaya bahwa warna daleman jambu batu merah itu sebegitu indahnya. Tapi kan kerjaan saya menyantap jambu batu merah hasil kebun ayahnya teh titi, dimana merahnya tuh gak se emejing itu. Pengennya sih berpikir positip, mungkin saja varietas nya beda. Tapi sepanjang jalan malah kepikiran, jangan jangan itu jambu di beri olesan semacam pewarna buatan. Soalnya pernah dengar juga sih desas desus yang demikian.

Selain penampakan, hal lain yang bisa membuat seseorang tertarik untuk membeli buah, adalah rasanya. Rasa manis adalah rasa favorit yang membuat seseorang menjatuhkan pilihan untuk membeli buah semisal jeruk, semangka atau mangga. Nah, saya pernah mendengar, bahwa ada buah yang dipaksa menjadi manis oleh penjualnya. Si buah ini di treatment dengan sistim injeksi pemanis buatan yang terbuat dari gula biang ke dalam daging buah yang bersangkutan. Ah ingin manis itu kadang memang menyakitkan. Rasa manis buah yang telah di susupi pemanis buatan itu pasti akan terasa aneh. Bagi yang sering mengkonsumsi buah, sekali cecap saja akan terasa kepalsuannya.

Ada lagi kasus buah impor yang menggunakan formalin dan lilin untuk memberikan efek awet segar kepada buah yang telah di panen hampir setengah tahun sebelumnya. Ternyata formalin telah menyusupi hampir semua lini pangan, dan dilakukan oleh orang orang yang tak bertanggung jawab. Buah yang berkasus seperti ini banyak berasal dari negeri nya Gong Li. Buah buahan yang telah di beri pengawet biasanya tampak segar bugar selalu walaupun tangkainya terlihat telah layu. Selain di beri pengawet, ada juga yang di suntik pewarna buatan, agar warnanya terlihat lebih bikin gregetan. Karena kurang nya pengawasan dan terbukanya kran impor secara membabi buta membuat buah buahan ini bisa masuk negara kita dengan leluasa, dan kadang mengalahkan eksistensi buah lokal yang ada. Banjir buah impor akhirnya membuat buah lokal menjadi anak tiri di negeri nya sendiri.

Akhir kata, selain sayuran, buah buahan adalah jenis makanan yang menyehatkan. Tapi di jaman sekarang ini, bila tidak hati hati dalam memilih dan membeli, kesehatan kita lah yang akan jadi taruhannya.











posted from Bloggeroid

Monday, September 21, 2015

RIP : LG OPTIMUS ME

Akhirnya Optimus Me saya pun mengakhiri masa jayanya. Setelah lebih dari empat tahun menemani, henpon bermerk LG itu pun dapat beristirahat dalam damai. My dear opmi telah menunaikan tugas nya dengan baik.

Sebenarnya, sejak awal pemakaian, opmi saya kerap membuat saya muntab. Baru beberapa bulan sudah minta di factory reset karena tombol home nya tidak berfungsi. Setelah itu giliran batre nya yang soak. Dengan terpaksa saya pun meluncur ke service center nya di BEC untuk membeli batre lithium baru seharga 120 ribu rupiah. Dan godaannya adalah setelah dibelikan batre baru, batre lama nya membaik kembali, ah saya hanya bisa mengurut dompet tetangga, karena mengurut kaki keseleo adalah pekerjaan dukun urut yang notabene bukan tetangga.

Tetapi setelah dua peristiwa tadi, opmi saya menjadi henpon yang sangat bersahabat. Walau telah terbanting berjuta kali, henpon yang body nya telah penuh dengan luka lecet itu tidak kunjung memperlihatkan tanda tanda kerusakan.

Dengan opmi hidup saya menjadi sangat berwarna warni. Bersamanya saya dapat membuka email dengan segera, membaca e statement bank kesayangan dengan menggunakan aplikasi acrobat reader tanpa susah payah. Menulis di blog yang cuma satu satunya dengan menggunakan aplikasi bloggeroid yang ramah. Menuangkan sebuah ide cerita yang muncul tiba tiba di kepala dengan menggunakan aplikasi olive office yang dapat dijalankan dengan mudah.

Satu hal yang menjadi kekurangannya adalah internal memory nya yang minim, membuat beberapa aplikasi seperti whatsapp tidak dapat di install dengan sempurna. Tapi tak apalah karena setiap hal itu selalu ada kekurangan dan kelebihannya, yang penting masih banyak manfaatnya.

Akhir kata, semua henpon pasti memiliki kemistri tersendiri dengan penggunanya, begitu pula dengan my optimus me. Tanpa opmi, saya mungkin tidak akan pernah menyadari apa passion saya selama ini.

Selamat tinggal my LG OPTIMUS ME, may your soul rest in peace.






posted from Bloggeroid

Monday, September 7, 2015

FAKIR AIR

Katanya para jomblo itu menyandang gelar fakir asmara.
Para netter yang tongpes menyandang gelar fakir kuota.
Sedangkan gelar saya sekarang adalah fakir cai alias air aka water atau banyu.

Krisis air euy. Setelah beberapa abad baru kali ini pompa saya ngadat gak mau menyemburkan air. Jangankan ala pompa air shimsalabim yang iklan nya busyet gede amat, semirip semburan mbah dukun nya Alam bin peti pera aja udah gak bisa.

Mandi? Mandi dong, masih ada tetangga yang baik hati dan tidak sombong, mau berbagi. Habis mandi di oleh olehin kueh bolu lagi, berasa habis pulang kenduri.

Kalau bandung kan di lingkung ku gunung, sumur saya di lingkung ku jet pump. Kanan kiri, depan belakang, atas bawah semua sudah di upgrade pake prosesor yang lebih kenceng jalannya. Setara Intel inside cenah, kalo sayah mah garing inside.

Dulu, kalau musim kering begini, gak ada istilah beli air, adanya minta air ke tetangga. Nah sumur yang di mintain air itu biasanya gak habis habis air nya karena telah di hujani oleh doa dari yang minta. Sekarang mah segala gala juga harus di beli atuh, miris. Sumur artesis nya di bikin bisnis, sungguh manis.

Tafakur baca UUD 45 pasal 33, gak memecahkan masalah, malah bikin mata berkunang kunang seakan akan kurang darah.

Kemarau tahun ini memang sangat menyesak kan dada, setelah kemarin banjir tumpah ruah di mana mana. Sekarang ya cuma bisa pasrah dan berdoa. Mau di jadikan apa isi dunia? Ya terserah pada Yang Maha Kuasa.

Sekarang mah sambil menanti perakitan instalasi air bersih berabonemen milik perusahaan air nya tetangga, lebih baik sing along bareng Kaka Slank : Apa mesti mimpi itu ku beliiiiii, G Am C G.

posted from Bloggeroid

Thursday, August 27, 2015

KALIAN SEMUA ISTIMEWA

Nightcrawler sae. Begitulah yang dikatakan seorang teman kepada saya beberapa hari yang lalu. Nightcrawler adalah salah satu film yang diperankan dengan baik oleh aktor berwajah lebar, Jake Gylenhaal. Saya mulai menyukai Gylenhaal ketika ia memerankan seorang detektif bernama Loki di film thriller Prisoners. Anehnya saya menyukai dia bukan karena kecharmingan nya melainkan karena perannya yang mengharuskan dia ber facial tic. Matanya sering berkedip bila ia tengah berada dalam situasi yang membuatnya stress. Bagi saya kedipan matanya terlihat sangat kul padahal itu adalah penyakit yang berkaitan dengan syaraf, ah alangkah sarap nya saya.

Lain lagi dengan Stephen Baldwin, saya menyukai Baldwin hanya di satu film saja, yaitu serial The Young Riders, karena selebihnya film dari adik nya Alec Baldwin ini gak ada yang menggugah hati saya. Di serial itu, Baldwin berperan sebagai William F Cody, seorang cowboy yang berprofesi sebagai kurir Pony Express. Yang saya sukai dari dia tak lain dan tak bukan adalah senyuman nya. Senyum dengan bibir miring mendekati sinis. Senyum yang sangat langka, selangka harimau sumatera.

Pernah lihat film Con Air? Kayaknya hampir semua orang yang mempunyai hobi nonton bakal menganggukan kepala. Di film yang di mainkan secara gondrong oleh Nicholas Cage itu ada seorang serial killer bernama Garland Greene yang di perankan oleh Steve Buscemi. Menurut saya Buscemi dapat menghidupkan sekaligus menguatkan karakter ini, cukup dengan mempertontonkan seringaian nya. Gigi taringnya terlihat indah berdampingan dengan barisan gigi lainnya. Buscemi sukses memukau penggemarnya dengan deretan giginya yang enggan ia perbaiki karena membawa hoki.

Bagaimana dengan Liam Neeson? Ah, aktor tua dari Irlandia itu selalu memesona saya dengan suaranya yang dalam, berat dan terdengar ningrat. Menurut saya, tidak ada yang bisa menyaingi ke epikan suara nya. Suaranya akan tetap menggetarkan jiwa, tak peduli apakah ia menjadi seorang villain bernama Ra‘s al Gul, di Batman begins dan Batman raising, ayah yang bertanggung jawab di Taken, Singa yang agung bernama Aslan di Chronicle of Narnia, Qui Gon Jinn sang Master of Jedi di Star Wars, atau sebagai Narator di beberapa film dokumenter.

Saya adalah pengangum kepala botak ala ikon alternatif rock, Billy Corgan. Di dunia film, kita mengenal kepala botak yang sama ikonik nya dengan milik Corgan, itu adalah milik Patrick Stewart. Pemeran kapten Jean Luc Picard dalam serial kegemaran saya Star Trek itu adalah aktor yang terlihat sangat serius, dia jarang tertawa lebar, kegembiraannya hanya tergambar melalui sebuah senyuman. Tapi Kepala licin tak berambut dan tampang seriusnya itulah yang telah membuat peran nya sebagai Profesor Xavier di X Men menjadi lebih meyakinkan.

Setiap orang mempunyai keistimewaan nya masing masing, karena setiap orang terlahir berbeda. Begitu pula dengan para aktor yang saya sebutkan diatas, mereka mempunyai sesuatu yang istimewa dan dengan sadar mereka kembangkan demi profesinya.

Jadi, marilah kita mulai menggali, bukan bersama telkom melainkan bersama hasrat yang ada dalam hati, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa setiap dari kita mempunyai hal yang istimewa. #apasih.




posted from Bloggeroid

Monday, August 24, 2015

MENCINTAI SOSOK SIDEKICK

Tombak : “Ibu suka Naruto?“
Saya : “Enggak, Favorit ibu mah Kakashi“
Tombak : “Kenapa Kakashi?“
Saya : “Soalnya dia keren, ibu suka sama peran pembokat eh peran pembantu kayak dia“

Sah aja kan bila seseorang lebih menyukai peran pembantu atau teman dari sang pahlawan dalam suatu kisah epik. Menurut saya temannya pahlawan itu gak kalah kerennya dengan sang pahlawannya sendiri, malah kadang merekalah yang memegang kunci keberhasilan seorang pahlawan dalam memenangkan pertarungan. Tapi bukan itu juga sih alasan saya untuk menyukai seorang sidekick dari pada sang heronya sendiri, banyak alasannya, seperti mereka yang saya sebut di bawah ini.

1. KAKASHI HATAKE. Kakashi adalah seorang jounin. Guru dari tiga ninja bernama Naruto Uzumaki, Sasuke Uchiha, dan Sakura Haruno ini mempunyai julukan sebagai ninja peniru. Kakashi pandai mengkopi jurus jurus yang pernah ia lihat dengan mata sharingannya, bukan sharingan kelapa ya :p. Kabarnya sudah sampai 14 ribu, eh itu mah rupiah terhadap dollar yah, ralat, sampai seribu ajah. Ia memiliki mata sharingan pemberian dari teman satu timnya yang ber klan Uchiha, mata kirinya ini dapat membaca gerakan sampai 3 detik sebelum kejadian, weeehhh paranormal anti di potret juga kalah ini mah. Chidori adalah salah satu jutsu dari banyak jutsu yang ia kuasai. Dan di balik masker yang selalu menutupi wajah dan mata kirinya itu sebenarnya ada sebentuk wajah tampan ala artis korea yang bersemayam di sana. Kenapa saya menyukai Kakashi, karena selain ia adalah seorang jounin terbaik di Konohagure, gemar membaca (walaupum buku yang dibacanya sangat spesifik), mempunyai rambut perak yang menawan, serta mata yang sendu, ternyata bintang nya sama dengan bintang saya, rasi al :D.

2. SANOSUKE SAGARA. Ia adalah teman dari Kenshin Himura sang Samurai X. Sano ini telah merebut perhatian saya karena sikap kesetiakawanannya. Tingkahnya yang kadang konyol kerap membuat saya terbahak. Yang pasti ia lebih tinggi beberapa senti dari Himura, yang membuat dirinya terlihat lebih menonjol bersama zanbattau nya yang besarnya gak kira kira. Dunia battosai gak bakalan seru bila tak ada sosok yang mempunyai hobi menggigit duri ikan ini.

3. RONALD WEASLEY. Dia adalah teman dari sang penyihir muda,Harry Potter. Ron begitu sapaannya adalah teman baik bagi Potter, di samping Hermione Granger tentunya. Bila Granger mempunyai kelebihan dalam hal kecerdasan, maka Ron sebaliknya, tidak banyak kemampuan yang ia punya. Tapi kesetiakawanannya bahkan kekonyolannya lah yang telah beberapa kali menyelamatkan sang pahlawan kita. Ron yang takut akan laba laba itu adalah seorang teman yang menyenangkan bagi Potter. Ron yang sering mengumpat dengan kata “bloody ...“ itu akan membela mati matian apabila ada teman lainnya yang mengejek sahabatnya. Tanpa Ron, kisah Harry Potter pasti akan kehilangan tawa. Saya menyukai Ron, karena kelucuan yang sering ia timbulkan secara tak sengaja.

4. PANORAMIX GETAFIX. Nah, inilah sang dukun dari Galia. Saya menyukai bagaimana dia berdiri di hadapan kuali super besar untuk membuat ramuan super dahsyat bagi para penduduk Galia. Perawakannya yang tinggi semampai dengan janggut panjang yang memutih membuat dukun ini terlihat sangat dukun sekali. Selain Panoramix saya pun menyukai anjing nya Obelix yang bernama Idefix. Anjing kecil yang mempunyai kecerdasan setara dengan Snowy nya Tintin.

5. KAPTEN HADDOCK. Dia adalah teman baik Tintin, sang jurnalis nya Herge. Pelaut yang digambarkan selalu berkostum sweater model turtle neck berwarna biru ini adalah seorang pemberang, tapi memiliki hati yang hangat. Ketika emosi ia sering mengumpat. Salah satu umpatannya yang saya sukai adalah "Sejuta topan badai!". Kapten Haddock yang mempunyai nama depan Archibald itu adalah sahabat Tintin yang suka mabuk mabukan.

6. PANGERAN ZUKO. Saya menyukai sosok yang awalnya merupakan anti hero itu karena gaya rambutnya. Rambutnya yang di potong pendek dengan gaya nyerepet itulah yang membuat cucu dari seorang Avatar ini menjadi terlihat sangat menawan. Pangeran dari negara api yang kelenjar air mata kirinya mati akibat serangan dari ayahnya sendiri itu adalah seorang firebender yang disegani. Di balik kekeras kepalaannya Zuko mempunyai hati yang lembut dan penuh kasih. Pada akhirnya, Zuko menjadi sahabat baik Aang, Katara, dan Sokka.

7. MAKO. Dia adalah teman dari Avatar Kora di film seri animasi The Legend of Kora. Alasan saya menyukai dia, tak lain dan tak bukan karena dia keceh, sebelas dubelas dengan anaknya Jendral Iroh, sang admiral yang gagah perkasa dan selalu charming dalam berbagai gaya.

Nah, itulah tokoh tokoh fiktif yang saya sukai karakter ataupun gayanya. Tidak selamanya tokoh utama dalam sebuah cerita menjadi idola. Ada saatnya seorang sidekick terlihat lebih menawan dari pahlawannya. Karena gak semua cerita heroik itu kayak milik Marvel, dimana superheronya gak punya banyak teman yang tulus di sekelilingnya, kecuali saat mereka di satukan menjadi supergrup bertajuk The Avengers.




posted from Bloggeroid

Wednesday, August 19, 2015

MENANTI PEGGANTIAN KABEL SERAT OPTIK

Telpon rumah buat jaman sekarang nasib nya kayak pacar yang tak di anggap, diputusin sayang, gak di putusin nyebelin.

Dalam rentang dua bulan ini, telpon rumah saya mengalami gangguan yang masip. Bagaikan kesurupan, nomornya pernah berganti sendiri. Kalau orang, ganti nama yang dibikin bubur merah dan bubur putih, kalo telpon ganti nomor cocoknya di bikinin bubur apa ya? Bubur kertas? Mumpung yellow pages nya udah numpuk di rak buku?
Pergantian nomor ini baru terjadi setelah kurang lebih 20 tahunan saya menjadi pelanggan setia telkom. Sebab musababnya adalah petugas lapangannya salah nyolokin kabel di gardu STO nya yang tengah di bongkar pasang. Itu baru salah nyolokin kabel gimana kalo salah bongkar gardu, harusnya gardu telpon malah bongkar gardu listrik, 147 vs 123 atuh, berlaga di ring di promotorin Don King.

Nah, setelah di perbaiki oleh pak petugasnya sebut saja pak poni yang kebetulan sedang nongkrong mandorin pegawai lepasnya di pinggir jalan sehingga gak usah repot repot pinjem telpon tetangga buat lapor ke 147, telpon saya pun sembuh dari kesurupannya. Gak berapa lama, telpon saya yang nomornya kerap jadi salah sasaran pelanggan Pizza Hut itu mati total. Inginnya sih ngebanting handsetnya tapi kan sayang, gak di banting aja kadang rusak nya gancang. Lapor 147 dong, pakai telpon tetangga karena pulsa hengpon habis buat upgrade kuota :p. Tunggu punya tunggu petugas lapangan gak nongol juga, eh kebetulan pak poni masih ada, ulukutek di gardu yang jumlahnya ada tiga.

Baru beberapa hari sembuh, telpon saya mokat lagi. Para kolega dan teman yang biasa telpon ke rumah pun ikut merasa risi. Karena si nomor keramat 147 kadang lama menanggapi laporan maka plasa telkom lah yang akhirnya jadi sasaran. Tapi dasarnya sebelas duabelas, tetep aja lama membalas.

Sebelum kejadian mati hidupnya saluran telpon yang penuh sejarah ini, berkeresek adalah penyakit lamanya. Entah berapa kali pak poni bolak balik nangkring di atas tiang telpon dengan tangga pinjaman dari tetangga. Katanya sih ada yang karatan, sama karatannya dengan saya waktu nungguin petugas datang. Setelah di bersihkan dengan intermezzo naik turun tiang, sang telpon pun normal kembali.

Terhitung sampai hari ini, telpon rumah saya belum juga di jenguk petugas perbaikan, padahal telah dua kali 147 di lapori, tapi belum ada tanda tanda kedatangan pak poni. Problemnya, bisa keluar gak bisa masuk, dengan nada panggil yang rada absurd.

Pak poni pernah bersabda, bila gangguan terus terjadi dan 147 telah muntab untuk menanggapi, niscaya kabel serat optik lah yang akan menghampiri.

Jadi mana atuh yang mau ngeganti kabel serat optik teh, hararase!!!







posted from Bloggeroid

Wednesday, July 29, 2015

PEUYEUM KETAN ITEM (PKI)

Bila mendengar kata PKI pasti mendadak banyak yang alerhi, gatel gatel sampe meremang bulu kaki. Tapi PKI yang ini enggak tuh. PKI yang gak kenal sama DN Aidit apalagi gambar palu arit ini stand for Peuyeum Ketan Istimewa *bergaya Cherrybelle. Karena gak mau bergaya chibi chibi maka saya ganti istimewanya jadi item, yang penting maksudnya sama heuheu.

Peuyeum ketan hitam adalah salah satu makanan favorit yang sangat saya cintai. Levelnya paling tinggi diantara peuyeum ketan putih dan peuyeum singkong. Sehasyeum apapun peuyeum ketan hitam masih terasa endes di banding dua temannya yang tadi saya sebutkan.

Dulu setiap lebaran tiba, makanan ini tidak pernah absen untuk di hidangkan di meja. Yang membuatnya siapa lagi kalo bukan simbah saya. Menurut simbah, proses pembuatan peuyeum ini harus di lakukan secara berhati hati dan mengikuti aturan tak tertulis yang berlaku secara turun temurun. Aturan tak tertulis itu diantaranya adalah sang pengeksekusi harus dalam keadaan bersih jiwa dan raga, tidak boleh sedang sakit fisik, hati apalagi jiwa. Lebih baik lagi apabila sedang bergembira suka suka. Wadah yang digunakan pun harus dalam keadaan bersih, tidak boleh ada minyak apalagi lemak membandel yang susah hilangnya.
Karena hal hal tersebut diatas lah yang membuat banyak orang langsung balik badan ketika ingin membuatnya, lebih baik pesan atau minta tetangga saja.

Karena penasaran saya pun akhirnya mencoba membuat peuyeum yang berasal dari beras ketan hitam yang di fermentasi dengan bantuan bakteri S. Cerevisiae itu. Kali pertama lumayan sukses, rasa peuyeum saya manis bak acara gula gula nya Bara Pattirajawane.
Tapi kali kedua, peuyeum saya rasanya asem banget seperti bau ketek yang lupa di semprot deodorant spray berkekuatan 48 jam. Padahal ketika membuatnya, saya merasa sedang dalam keadaan hati dan pikiran yang bersih, sebersih keadaan dompet ketika lebaran telah usai. Begitu pula wadah wadah yang di pergunakan semuanya bersih *mungkin heuheu. Beras ketan dan raginya pun di beli di tempat yang sama. Tapi ya dasarnya sudah menjadi takdir sang peuyeum menjadi hasyeum, tidak ada yang bisa di perbuat lagi selain menyulap nya menjadi makanan lain berjudul madu mongso.

Percobaan kali kedua itulah yang membuat saya sedikit trauma, memangnya Marisa aja yang boleh trauma, saya juga boleh dong. Sampai hari ini saya belum pernah mencoba kembali membuat peuyeum yang cocok sekali bila di padukan dengan es puter durian itu.

Karena tak punya keberanian untuk melupakan kegagalan masa lalu atau istilah gawulnya gagal move on, akhirnya saya pun memilih membeli produk jadinya saja yang dikenal dengan PKI tadi. PKI ini berbaur manis dengan makanan lainnya di sebuah toko yang terletak di Jalan SMP No. 1 Cimahi. Entah berapa kali saya telah menikmati rasa manis peuyeum yang di kemasannya terdapat foto bapak ibu pendiri toko itu. Saya biasanya membeli kemasan kecil seharga 15 ribu rupiah. Suatu kali ketika nafsu angkara murka tengah melanda, saya pun membeli PKI dalam kemasan besar dan apa yang terjadi? Rasa peuyeumnya pahit sekali. See? Sang ahli yang ngakunya membuat peuyeum sejak tahun 1962 saja belum bisa menaklukan pembuatan peuyeum ketan hitam yang raginya di buat dari tepung beras, bawang putih dan kayu manis itu, apalagi bocah bau kencur kayak saya :p.

Saya juga pernah merasakan peuyeum ketan hitam yang di jual di supermarket supermarket tertentu. Walau manis tapi sensasi cakres cakres ketan nya ketika di kunyah sama sekali tidak ada. Hal ini terjadi karena teksturnya yang lembek, mungkin pembuatannya di campur dengan ketan putih. Padahal ciri khas peuyeum ketan hitam adalah di rasa keras ketannya.

Saya pun pernah mencicipi peuyeum ketan hitam yang di jual di pasar tradisional atau pasar pasar tumpah sekitaran. Kalo yang ini rasa manis nya kurang ajar karena mereka lagak lagaknya menggunakan gula biang.

Di balik sensasi rasa khasnya, peuyeum ketan hitam yang mengandung zat antioksidan ini ternyata menyimpan banyak khasiat yang bermanfaat bagi tubuh kita diantaranya adalah sebagai pencegah kanker, tumor, dan diabetes. Dapat pula menjaga daya tahan tubuh, memperlancar proses pencernaan, anti aging, membersihkan racun di dalam tubuh, sampai membersihkan kolesterol dalam darah.

Lebaran kali ini saya mendapat dua mangkok peuyeum ketan hitam dari dua tetangga saya yang obaik hatinya. Saya pun gembira tiada tara karena sesungguhnya peuyeum ketan hitam itu mempunyai sensasi rasa yang emejing banget yang gak bisa di definisikan dengan kata kata.




posted from Bloggeroid

Tuesday, July 28, 2015

KADO UNTUK SANG MANTAN

Seorang teman pernah bertanya : “apa kado terindah yang telah kau berikan kepada mantan pacarmu?“

Dan aku pun menjawab :
“pekerjaan hebat, istri yang cantik dan anak anak yang lucu, jadi jangan pernah membenci atau sakit hati kepada mantan yang dulu pergi meninggalkan mu“
posted from Bloggeroid

Saturday, July 18, 2015

DI BAWAH KAKI GUNUNG CEREMAI

Tahun ini saya kembali mudik ke pondok mertua indah yang terletak di sebuah desa bernama Bandorasa Kulon, setelah tahun kemarin absen. Desa ini terletak di kaki gunung tertinggi di jawa barat yaitu gunung Ceremai yang puncaknya masih mancung sempurna bak hidungnya artis kegemaran kita semua, Jang Geun Suk #eh itu mah kegemaran guweh aja kalee :p.

Desa yang merupakan salah satu jalur pendakian ke gunung Ceremai itu berdekatan dengan sebuah gedung bersejarah yang ngehits banget dari jaman kompeni sampai sekarang yaitu gedung perjanjian Linggarjati. Selain itu terdapat beberapa objek wisata yang lumayan endang bila dikunjungi, diantaranya Linggarjati Indah dan Curug Si Domba.

Desa ini masuk ke dalam wilayah kabupaten Kuningan yang identik dengan binatang yang juga identik dengan saya yaitu kuda #sigh.

Ngomongin sebuah daerah, gak enak kalo gak ngomongin makanan khas nya. Ada banyak makanan khas daerah yang berbatasan dengan Cirebon ini diantaranya adalah peuyeum ketan putih yang dibungkus dengan daun jambu dan digebruskan ke dalam ember berwarna hitam. Rasa dari peuyeum ini manis sekali, semanis senyuman Lee Min Ho. Selain peyeum ember, ada juga makanan ringan yang disebut opak bakar dan sejenis sirup yang kerap di sebut jeniper. Jeniper adalah singkatan dari Jeruk Nipis Peras, sirup ini belum terlalu lama populer dibandingkan sirup Tjampolay made in Cirebon yang telah eksis sejak tahun 1936.

Kembali ke desa tempat saya mudik. Banyak hal yang baru saya temui seumur hidup saya di desa yang banyak ditinggalkan penduduknya untuk merantau itu. Salah satunya adalah tradisi membangunkan warga untuk sahur yang di namakan Obrog obrog. Obrog obrog ini adalah sekumpulan remaja yang berkeliling kampung dengan mengumandangkan bebunyian dengan menggunakan pengeras suara. Obrog obrog ini membawahi beberapa divisi yaitu reog, burog, jalangkung, ketimpring (kalo gak salah ingat) dan beberapa lagi. Nah, kru obrog obrog ini, pada akhir masa dinasnya yaitu sehari sebelum lebaran akan mendatangi rumah rumah warga dan meminta sumbangan secara sukarela dalam bentuk butiran beras. Tapi terkadang ada juga warga yang menjamu para anggota yang berjumlah belasan sampai puluhan orang itu dengan hidangan makan sahur ala kadarnya.

Selain obrog obrog, tradisi khas warga desa lainnya menjelang lebaran adalah prosesi penyembelihan sapi di salah satu rumah warga. Daging sapi yang di hasilkan lalu di jual kepada warga sekitar. Fresh meat for lebaran.

Ada hal yang unik yang saya temui di sini selain beberapa hal di atas yaitu kebiasaan warga sekitar yang mengadakan hajatan setelah hari lebaran berlangsung. Tak ayal, sehari atau dua hari setelah lebaran banyak berdiri tenda tenda biru dengan berhiaskan janur kuning. Kenapa sih harus pas lebaranan? Karena pada hari lebaran banyak orang yang pulang kampung, dan momen berkumpul nya orang orang perantauan ini lah yang katanya membuat ide hajatan ketika hari raya idul fitri tercetuskan.

Apa yang saya ceritakan diatas adalah sebagian kecil hal menarik yang saya ketahui dari daerah yang terkenal dengan komoditas ubi jalarnya ini. Di balik anggunnya bayang bayang gunung Ceremai masih tersimpan banyak hal unik yang menyelubungi desa ini.

Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Mohon maaf lahir dan batin.




posted from Bloggeroid

Thursday, June 18, 2015

RUMAH TUSUK SATE

Menurut seorang teman saya yang bukan merupakan ahli feng shui, rumah tusuk sate itu banyak mendatangkan musibah, jadi sebisanya hindarilah. Yaaa gimana yaa.

Rumah saya adalah rumah yang posisinya bisa di sebut tusuk sate bukan tusuk gigi apalagi tusuk jarum, itu mah shin she.
Banyak kejadian buruk yang membuat teman saya tadi makin meyakini kata katanya.
Kejadian miris yang membuat saya sedikit meringis ini biasanya berlangsung di malam hari nan sunyi sepi.

Seperti halnya peristiwa beberapa tahun yang lalu. Malam itu jarum jam baru saja menunjuk di angka 11 tepat, ketika saya di kagetkan oleh suara gubrak yang sangat mencuringhakkan. Begitu keluar rumah, sudah ada sebuah motor yang gogoleran persis di bawah kursi teras. Sebelum mencium kursi, rupanya motor tersebut lebih dulu menghantam pagar sampai coplok dari rangkaiannya, masih untung sih gak sampe anjlok ala kereta Turangga. Penunggang motornya sih gak apa apa, yaa hanya tergores sedikit di bagian tangan dan kaki nya. Tapi pintu pagar dan kursi teras alhamdulillah rusak permanen. Setelah di amati ternyata sang rider yang merupakan anak muda usia 20 tahun an or something itu sedang teler berat. Entah habis nyimeng, menegak miras oplosan atau ngelem aibon, yang pasti dia sedang mengawang awang. Para bapak yang berkerumun pun ogah menolong pemuda yang ternyata mempunyai kakek dan ibu yang berprofesi sebagai guru itu. Beruntung, ada temannya yang merupakan tetangga saya dan sama sama berstatus biang kerok, muncul untuk mengantarnya pulang. Tersaruk saruklah mereka berdua ibarat dua remaja pulang malam mingguan yang kehabisan uang jajan.

Beberapa bulan yang lalu, pintu pagar rumah saya kembali di hajar oleh seorang pengendara motor. Suara knalpot motor matik nya sebelum menabrak pagar terdengar aneh dan menggetarkan gendang telinga. Bak suara gemuruh badai yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Begitu di tengok, motor berwarna merah gak jelas itu telah tergeletak pasrah di halaman depan beserta serpihan kaca spion yang berhamburan. Lagi lagi pintu pagar kembali menjadi korban. Alih alih menolong, para bapak yang tiba tiba berkerumun pun malah asik memarahinya. Habis jatuh tertimpa tangga pulak, nasib si bocah tanggung yang terlihat agak teler itu. Kali ini tidak ada yang mengantarnya pulang, persis seperti jelangkung, datang tak di undang pulang tak di antar.

Nah, dua hari yang lalu, di siang hari bolong pagar tembok rumah saya pun ikut bolong. Kasus tabrak lari, hit and run. Tersangkanya sebuah mobil taft hitam. Pengemudinya tentu saja seorang pecundang. Lari tunggang langgang bagai kuda lepas dari kekangan.

Gak hanya motor dan mobil, kuda, becak, sepeda, dan gerobak pun pernah mencium pagar depan rumah saya.
Apakah semua peristiwa di atas adalah karena letak rumah saya yang berupa tusuk sate ?
Bisa ya bisa tidak.
Rumah tusuk sate memang ngagokan kalo kata orang sunda mah, letaknya yang menjeblak diantara dua pengkolan membuat rumah ini menjadi gerbang tol yang sempurna untuk para pengendara lengah.

Emosi jiwa pun melanda ketika semua peristiwa itu baru saja terjadi, sangat manusiawi. Walaupun pada akhirnya diri ini sadar, mungkin semua peristiwa mengenaskan ini adalah sebuah balasan kepada kami yang di suatu masa pernah mengecewakan orang atau bahkan menyakiti perasaan orang lain.
Jadi menerima semuanya dengan lapang dada lebih menenangkan dari pada harus menyangkalnya habis habisan.

Apa yang mang Eddie Vedder bilang ada benarnya :
The sorrow grows bigger when the sorrow's denied.

Jadi saatnya ber whooshaaaaah ria bersama Martin Lawrence.
Whooshaaaaahh ......





posted from Bloggeroid

Thursday, November 20, 2014

JANGAN NAIK ANGKOT

BBM naik, tarif angkot pun tentu gak mau ketinggalan, ikut naik dong, tapi tenang ajaa WA sama Line masih tetep kok, tetep ngabisin memory internal, yang akhirnya saya NAIK kan statusnya menjadi status level 4 “AWAS“ nyingkir dulu.

Tapi kali ini saya gak akan ngomongin tentang kenaikan harga BBM, bosen soalnya naik terus jarang turunnya, kalo naik terusnya di permainan ular tangga sih bagus bisa langsung ke kotak kemenangan di ujung kiri, kalo naik terusnya di sektor tekanan darah, kumaha?

Di saat yang penuh kebahagiaan ini saya mau ngomongin angkot aja deh, Armada yang gak pernah nyanyiin lagu “mau di bawa kemana“, soalnya armada yang satu ini kan udah ada trayek nya, jadi gak perlu nanya “mau di bawa kemana“, tinggal tunjuk tulisan gede gede di atas kaca depan,Soreang Leuwipanjang via Caringin.

Angkot dan bis Damri adalah dua armada yang sangat saya sayangi, susah membagi kasih sayang antara mereka berdua, kalo kata Ahmad Dhani Band mah “aku cinta kau dan dia“. Kadang bila naik bis Damri, saya selalu ingin kirim kirim lagu nya mas Piyu ke para angkot “sobaaat, maaaf kan aku mencintainya, aku tak bermaksud membuat mu sungguh tak berarti“ haiih.

Back to angkot, angkot ini kadang ngeselin tapi juga ngangenin, boleh dikatakan hubungan kami tu awet rajet gitu lah. Ngeselinnya kalo udah ngetem. Angkot yang paling melegenda soal perngetem an ini tak lain tak bukan adalah si angkot merah setrip putih , gak sopan nya kadang mereka ngetemnya pas di lampu merah, semaruknya terminal apah, memang sih tu lampu merah lama banget nyala nya tapi ya gak gitu gitu amat kali yak, mikiiiirr #eh.

Angkot jaman sekarang jarang banget yang ada kernetnya, mungkin karena kernet adalah profesi yang kurang menjanjikan, akhirnya mereka pun pada move on mengejar cita cita sampai ke negeri china. Nah, kalo jaman dulu masih banyak angkot yang make kernet, dan yang paling ngeselin nya adalah kernet yang suka towal towel, SKSD gak jelas. Narikin ongkos pake nowel dengkul, kembalian nowel lagi dengkul, nyuruh geser duduk nowel lagi dengkul, gaaah, gw sop juga dengkul lu ntar, eh salah, inih pan dengkul sayah yah *tutup muka pake panci presto.

Yang malesin lagi adalah adanya ketidakseragaman persepsi antara saya dengan supir angkot. Angkot full tank versi saya yaitu 6 - 4, tapi versi supir 7 - 5, yaaa gapapa sih kalo penumpangnya seragam langsingnya ala Olla Ramlan yang sedang pake Kozui Slimming Suit, cocoklah versi pak supir, lha kalo penumpangnya seragam pada gagal diet semua, ya versi saya dong yang dipakai, kebayang kan kalo maksain, duduk cuma kebagian seperdelapannya pantat bikin kaki gemeteran, pegel pegel, sakit persendian ditambah kesemutan, ujung ujungnya harus minum vitamin B kompleks sama obat asam urat :p.
Tapi ya di mana mana juga pak supir lah yang selalu benar kan dia yang punya angkotnya, senior lagi, ketika saya keukeuh gak mau naik angkotnya, dia langsung teriak “naik taksi aja atuh nyaiii kalo mau lowong mah“ sambil tancap gas pasang huntu lima. Dan saya pun geram langsung pencet nomer taksi andalan taksi pakpak preman preman “anteur euy“.

Satu lagi nih yang bikin kesel kalo naek angkot yaitu kebagian duduk di jok artis, yaitu jok yang di desain secara khusus dan diletakkan di atas mesin mobil di belakang pak supir. Entah kenapa jok ini di sebut jok artis, mungkin kalo duduk di situ kita menjadi pusat perhatiaan semua penumpang kali ya. Kalo jaman sekarang sih, jok artis nya rada nyaman lah ya walau gak senyaman Ligna yang bila duduk lupa berdiri itu, kalo dulu, waah ini jok adalah jok penyiksaan, masih ngartis sih tapi nyiksa. Udah jok nya kecil, keras, gak stabil, panas lagi, berasa di bikin nasi goreng sama dosen penguji di sidang TA, males!!!.

Pernah naik angkot yang ada musiknya kan? Yang ngeselin dari musik di angkot adalah ketika kamu duduk pas diantara speaker nya yang segede alaiumgambreng itu terus om DJ nya yang merangkap sopir memasang musik yang entah bergenre apa, dengan kualitas suara yang wawut wawutan plus volume yang bikin gerah telinga sampe waktu kamu teriak kiri berkali kali gak kedengeran juga, nah itu dia, kheki!!!

Angkot dan asap rokok, gak penumpangnya gak sopir nya sama aja, hobi mengepulkan asap yang putih ke udara bak kapal api nya ibu Sud. Paling sebel, kalo duduk pas di depan orang yang sedang ngerokok, niupin asep nya persis di depan idung kita, make bergaya lagi asep nya di bentuk bulet bulet, lope lope, kotak kotak, haaih. Di kasih kode non verbal gak ngerti, di verbalin malah nyolot, wooooh *keluarin semprotan anti nyamuk demam berdarah punya dinas kesehatan.

Belum lagi kalo sopirnya ugal ugalan, pahibut antara nginjek gas, rem, kopling, pindah gigi dan benerin spion depan, berasa ada di track formula one balapan sama Kimi Raikonen, gaaah, tubuh ini berasa di aduk di mixer duduknya ibu Sisca Soewitomo, kalo di film kartun keluar keluar udah jadi brownis kukus nya Nyonya Liem deh.

Suka nemuin pengamen di angkot?, jaman dulu pengamen tu banyak ngestage nya di bis Damri, kalo sekarang pada turun derajat, angkot juga mereka sikat. Suatu kali pernah dalam satu perjalanan, pengamennya sampe ada 4 kloter dengan 4 genre berbeda. Dangdut, pop, melayuan, sampe lagu lagu rohani, kalo aja ada yang bisa bawain lagu nya mamang Eddie, saya bakal kasih serebu dah ditambah permen dua. Pengamen ini ada yang suka ngelunjak, sebelum nyanyi bikin prolog dulu, berpesan kalo gak mau ngasih jangan pura pura tidur atau sms an hahaha dalem banget sedalem galian biopori kampung saya. Paling malesin kalo udah ada pengamen yang maksa, yang kayak gini biasanya dilakukan sama anak anak kecil yang bawa kecrekan tutup botol minuman beling, pake aksi colak colek gitu, suara nya gak bisa di jabarkan ada di kunci nada apa, pasang muka memelas ala si Mort di film Madagascar, udah gitu bawa bawa kaleng lem Aibon, di omongin malah ngamuk, eehh di cubit cantik juga kamuh sama tante syahroni, kalo sudah begini, saya teringat ingat pesan pak RK, ulah di bere alias jangan di kasih !!

Tapi diantara kekesalan pasti ada secercah kerinduan, kalo kata Nyai Melissa Manchester mah “that even in a storm we‘ll find some light“. Angkot itu ngangenin kalo lagi di butuhin *pasti ini mah yah bukan cuma angkot ajah, tukang tahu Cibuntu juga begituh.
Kebayang di suatu pagi, jam tangan orang telah menunjukkan angka yang tidak di inginkan, injury time, harus cepat sampai tujuan, angkot satu pun gak ada yang lewat, mau jadi joki 3 in 1, da gak ada program, nebeng kol dolak, nanti di kira bobotoh mau nonton pertandingan, nyegatin mobil pribados, boro boro, di lirik aja kagak padahal udah naik naik in rok nya orang, naah yang kayak gini nih yang bikin angkot itu menjadi suatu hal yang sangat di rindukan kedatangannya. Aku padamu welah.

Angkot juga bisa jadi ajang pengembangan bakat. Bila hujan turun, kaca angkot biasanya berembun, mari ber mural mural ria, tulas tulis rayuan gombal kayak ay lop yu, yu lop mi, yap mi lu, atau ngegambar babi yang pake lagu bulatan kecil bulatan besar itu, hal hal kayak gini nih biasanya dilakuin kalo sedang macet karena jalanan banjir, daripada bete mending bikin beginian.

Angkot juga bisa jadi ajang tukar menukar antar sesama operator eh sesama penumpang demi melanggengkan sistem barter, dari tuker pikiran, tukeran nomer telepon, tukeran katalog, tukeran sendal eh itu mah di masjid yah, sampe tukeran duit recehan buat bayar angkot, soalnya suka ada sopir yang semena mena bila tidak ada recehan.

Angkot itu menganut moto 3M yaitu Murah Meriah Muntah, silahkan di bolak balik da sama aja. Muntah gara gara gaya sopir Formula 1 KW an tadi. Kalo murah yaiyalah namanya juga angkutan umum, tapi di banding Damri mah masih murah Damri sih kecuali di Damri nya beli permen jahe, tisue, jarum jait, alat kerokan, dorokdok, sama salak sepuluh ribu sekantong :p.
Meriah? Tentu saja meriah, apalagi kalo udah di dedet ala angkot Soreang Caringin, 21 Orang dalam sekali angkut, keluar keluar udah jadi ikan sarden atau makarel. Terkadang ada yang bawa ayam, burung, balon, kerupuk satu karung, ikan mas hidup dalam karung plastik, dan lain sebagainya. Meriah banget kan kayak suasana pasar.

Eh ternyata lebih banyak gak enaknya naik angkot teh yah hahaha, pesan saya cuma satu “jangan naik angkot kalo gak akan pergi kemana mana“

*di tulis di tengah kerinduan akan suasana angkot yang nyaman tentram aman sentosa tut wuri handayani.

posted from Bloggeroid

Tuesday, November 11, 2014

SEBUAH JENDELA BESAR

Aku selalu mengagumi jendela itu. Sebuah jendela besar yang kerap terbuka lebar. Walaupun cat nya telah sedikit memudar tapi tidak mengurangi pesonanya untuk selalu di singgahi.
Jendela itu kerap menjadi bulan bulanan, di duduki , ditongkrongi, bahkan di langkahi, menggantikan fungsi pintu yang sebenarnya tak pernah kulewati.

Aku dan seorang teman kerap duduk di jendela itu, untuk sekedar berbincang, menghabiskan satu piring nasi goreng atau satu mangkok mie instan sambil mendengarkan suara sayup kompisisi air on a G string nya Bach dari ruangan sebelah. Sebuah gitar yang aku lupa warnanya kadang ikut andil dalam menyemarakan suasana jendela berbukaan dua itu.

Kini aku tak pernah tahu bagaimana nasib jendela besar itu, apakah pemiliknya seramah yang dulu, yang selalu membiarkan jendelanya tak pernah sepi dari kicauan tak penting sampai tumpahan kopi.
posted from Bloggeroid

Saturday, September 20, 2014

SEBUAH CATATAN TENTANG SEORANG IKON GRUNGE BANDUNG

Saya tidak mengenalnya secara personal, yang saya tahu bahwa dia adalah teman satu jurusan eks saya dulu. Interaksi face to face saya dengan dia adalah di suatu siang di depan kantin Mas Pono, kala itu saya sedang menanti angkot dengan seorang teman, lalu tiba tiba dia menghampiri saya, memandangi tas kanvas saya dan sedikit menarik narik permukaan yang ada tulisannya. Saat itu saya tak mengerti dibuatnya, saya memandangi raut wajahnya, dahinya berkerut dan tak berkata apa apa. Lalu saya pun ikut menengok tas saya yang bertuliskan GRUNGE dengan tanda tanya di kepala. Setelah dia puas memelototi tas saya, dia pergi meninggalkan saya dengan sebuah senyuman penuh makna. Saya pun bertanya tanya, ada apa dengan dia?.

Beberapa belas tahun kemudian, pertanyaan saya terjawab. Saya menemukan namanya di suggestions page medsos yang terkemuka, karena teman temannya adalah teman teman saya juga, ah kebetulan. Membaca postingan, beberapa note dan gambar gambar yang kerap di share nya, membuat saya mengerti mengapa dia dulu bela belain keluar kantin Mas Pono hanya untuk melihat tulisan di tas saya. Kalo kata ben10 , oh man !!
Dia ternyata adalah salah satu ikon di dunia anak muda grunge Bandung yang dulu berkembang di sebuah rumah di bilangan Purnawarman pertengahan 90 an. Malah ada yang bilang bahwa dia adalah ikon 4 generasi grunge Bandung (yang ini bener bener perlu penjelasan :D, gak setuaa itu kaleee). Dia dan band nya telah mengeluarkan beberapa album secara indie yang saya gak pernah tau sebelumnya karena arus informasi kala itu belum sehebat sekarang.
Dia dan band nya adalah termasuk salah satu band pengisi album kompilasi “Grunge is Dead“ yang hanya di produksi 200 kaset saja dan merupakan album kompilasi yang sangat bersejarah untuk kaum grunge di Bandung.
Kalo lapis legit, saya mungkin ada di lapisan terbawah di bawahnya paling bawah sekali mepet ke loyang, bila berbicara tentang musik grunge. Saya hanyalah kulit ari sedangkan dia adalah sumsum tulang. Saya baru bisa menyandang tas bertuliskan grunge, sementara dia telah menyandang gitarnya dan menyanyikan penyroyal tea dengan kerennya.
Saya baru bisa mendengarkan lagu lagu band pengusung aliran grunge, sedangkan dia, telah terjun bebas, bergelut dengan semua hal ke dalam musik yang sangat identik dengan mendiang Kurt Cobain itu.
Ah, sungguh kerdil nya saya di hadapannya.
Karena itu, mulai hari ini saya gak akan menggembor gemborkan musik kesukaan saya dengan membabi buta lagi.
Mulai hari ini saya akan mencoba menyelami musik musik grunge nya anak bangsa.
Mulai hari ini saya ingin lebih mengenal mereka, yang bermusik karena idealismenya bukan karena materi dan ketenaran semata.
Mulai hari ini saya akan terus meyakinkan diri bahwa suatu saat saya akan bisa ngobrol santai dengan dia dan bandnya untuk dapat mengetahui lebih dalam tentang mereka serta mendokumentasikan perjalanan bermusiknya ketika malang melintang di blantika musik grunge se Bandung Raya melalui sebuah tulisan, agar musik grunge lokal lebih di kenal bagi generasi selanjutnya.


Keep on rockin‘ !!!
Keep on grungin‘ !!!












posted from Bloggeroid

Sunday, September 7, 2014

MASA KECIL

Ikutan grup jadul jadi mengingatkan saya akan masa kecil saya yang menyenangkan walaupun hidup dalam segala keterbatasan. Sebenernya gak seneng seneng amat sih, beli baju lebaran aja musti nabung dulu di celengan tanah liat selama setaun :D.

Seperti hal nya anak perempuan seumuran, saya dulu sering main masak masakan, korbannya adalah daun Hibiscus rosa-sinensis aka kembang sepatu, daun ini di campur dengan air lalu di peras, dijadikan minyak goreng artificial, sedangkan bunganya, sering saya hisap bagian bawahnya, terasa manis semanis senyum mu pada ku #aih. Lalu ada cuscuta sp atau yang lebih di kenal dengan nama tali putri yaitu tanaman parasit berwarna kuning berperan sebagai mie nya, daun pluchea indica less atau beluntas si obat bau ketek sebagai sayurannya, dan campuran bunga setaman lainnya, di hajar di satu wadah di jadikan masakan ala chef chef terkenal pada jamannya, siapakah itu? auk ah gelap, tau nya kan cuma kak seto, kak heny, dan pak tino sidin, dan mereka itu bukan chef :p.

Sepulang sekolah, saya paling suka bermain di saluran air RT tetangga, agak jauh dari rumah, airnya sejernih air pam, mengalir dari hulu ke hilir dengan tenang. Di sana saya seringkali menangkapi ikan ikan kecil, menyaksikan berudu berenang kian kemari, menikmati rimbunnya pohon kersen sambil menyantap buah nya yang memerah, lalu dengan isengnya berjalan hilir mudik di jembatan yang terbuat dari batang kelapa yang tergeletak tak berdaya, melatih keseimbangan.
Saya pun biasa bermain di sebuah lapangan bertanah merah, duduk dipinggirannya beralaskan rumput yang menghijau, menikmati semilirnya angin sore sambil iseng mencabuti dan membaui akar rumput yang baunya nyaris seperti tarason. Di sana saya kerap menyaksikan anak lelaki bermain layangan dan sepeda.

Lain hari saya sudah menclok di sawah, mencari tutut diantara sejuknya genangan air pesawahan yang menyentuh kaki tak beralas. Setelah itu pindah ke perkebunan tak jauh dari situ, mencari buah hiris dan petai cina muda untuk di jadikan rujak seadanya.

Saya pun mempunyai tempat favorit, tempat favorit saya yang pertama adalah pohon jambu batu merah yang terletak di depan rumah. Saking seringnya di panjat, batang pohon jambu itu menjadi halus dan mengkilat. Pohon jambu itu rimbun, bila musim berbuah tiba, saya betah berlama lama di atasnya, kadang sambil meneriaki teman yang lewat di bawahnya. Saya baru turun bila ada ulat jengkal atau ulat jenis lainnya yang mulai menampakkan diri di depan hidung saya, ngaciiiiiirrrr adalah solusi yang paling tepat.

Pohon jambu batu putih di halaman rumah teman SD saya adalah tempat favorit kedua saya, biasanya setelah pulang sekolah kami kerap bergelantungan di sana, kadang berdua, bertiga bahkan berempat, dengan pohon sebesar itu, kayaknya cukup untuk menampung sekompi anak anak kecil.

Ngomongin masa kanak kanak pasti gak bakalan jauh dengan yang namanya permainan, kala itu banyak sekali jenis permainan yang biasa di mainkan, ada gatrik, loncat tinggi, spintrong, sondah, boy boy an, petak umpet, galah asin, congklak, kuwuk dengan bola bekelnya, halma, ular tangga, ludo, kwartet, kelereng, kutik dan beberapa lainnya. Yang paling saya ingat adalah bola yang di gunakan untuk bermain boy boy an yaitu gumpalan kertas koran yang di bentuk seperti bola lalu di masukan ke dalam plastik dan di ikat dengan karet gelang. Tujuan dari pembuatan bola kertas ini yaitu agar tidak sakit bila kita kena gebok lawan. Loncat tinggi adalah permainan yang menyenangkan, apalagi bila sampai bisa meloncati untaian karet yang di kepang itu di sesi “merdeka“. Puas sangat!.

Tentang jajanan, ah kalian semua yang satu angkatan pasti tau jajanan apa saja yang ada kala itu, dengan uang 25 perak, kita sudah bisa membawa makanan atau mainan yang kita sukai ke rumah bahkan ember bolong, tutup panci penyok, sandal jepit dan botol kecap bekas, bisa kita barter untuk sekedar menikmati manisnya arumanis dan gulali.

“Benar. Kita tak pernah lagi menjumpai kebahagiaan yang
setara dengan kebahagiaan masa
kanak-kanak kita“. (John Steinbeck)

#sigh.

Sekian dan terima kasih.
posted from Bloggeroid

Tuesday, September 2, 2014

KEEP ON ROCKIN‘ AND SAVE THE HORSES

Saya terbahak ketika seorang teman menulis pesan dengan heroiknya : keep on rockin‘ and save the horses! Apaaaalaaaaggiii coba. YA, saya suka musik rock, dan YA, saya dikelilingi oleh kuda kuda yang tiap hari hilir mudik di depan rumah saya, kuda, saya, dan musik rock, let‘s see :D.

Kuda dan saya :
Kuda favorit saya adalah Maximus, kuda istana yang sangat cakap dan pemberani, mempunyai mimik muka yang sangat kocak. Nonton tangled berkali kali cuma karena saya suka sama si max ini, selebihnya mah bonus.

Kuda favorit kedua saya adalah kudanya Lucky Luke, si Jolly Jumper, kuda putih bertotol coklat yang di gadang gadang sebagai kuda tercerdas di dunia. Mempunyai surai blonde dan bulu mata yang aduhai. Mungkin Utut Adianto bakal seneng kalo ketemu dia, soalnya si jolly jumper ini gape sekali main catur selain mencuci baju.

Di kampung saya, kuda (delman) adalah alat transportasi yang masih eksis. Jauh dekat seribumaratus. Para pemilik kuda di sini karakternya bermacam macam, ada yang lemah lembut, sedang sedang saja dan ada yang galak luar biasa. Saya paling kheki sama yang galak luar biasa, mereka ini kadang mencambuki kuda bagai mencambuki kasur kapuk yang merana di siang hari bolong. Sang kuda cuma bisa meringkik sedih, mengiris hati. Harusnya saya ajak salah satu mantan capres kemarin ini untuk berkoalisi lantas demo sambil membentangkan spanduk “SAVE THE HORSES“ di depan kantor kelurahan *bawa unimog kayaknya keren jugaa eaaaaaaa.

Kuda dan musik rock :
Dulu saya punya teman, dia punya ben rock, bikin demo album dan salah satu judul single nya berjudul “kuda liar“ saya lupa liriknya, tapi dulu denger melodinya sih lumayan oke juga. Yaaa, kuda liar, kayak salah satu jenis susu gitulah. Asli sumbawa #aih.

Di tahun 70 an ada ben rock underground yang namanya The Kuda, ben ini gak terkenal karena hidup di jaman Pak Harto, jaman ketika kreatifitas dalam bermusik di berangus sedemikian rupa. Kenapa namanya The Kuda? Konon katanya, ben ini ingin seperti kuda.Kuda adalah simbol kerja keras, keuletan serta kerap melawan semua bentuk represi yang mengukungnya. Liar dan berkarakter. Nah kan, kuda teaaa.

Satu hal, saya gak suka dengan segala kekerasan terhadap kuda. Kuda berhak hidup dengan damai dan ceria, bukannya setelah kerja keras untuk manusia, menjelang renta, malah di hidangkan di meja.
Menurut saya sate kuda adalah sate yang paling gak sopan. Berdasarkan sebuah penelitian, daging kuda memang banyak mengandung banyak manfaat untuk di konsumsi manusia, tapi plis deh, ini kudaaaa, alat transportasi nya William F Cody saat bekerja di Ponny Express. Ini kudaaa, teman temannya secretariat, kuda tercepat di dunia yang bisa berlari sampai 80 km/jam yang berasal dari Virginia.
Ini kudaaa, yang namanya di abadi kan menjadi salah satu jenis merk mobil.
Ini kudaaa yang memberi inspirasi pada ben rock 70 an, The Kuda untuk membuat album bertajuk “Duka Kuda“.

So, keep on rockin‘ and save the horses !!!

Thanks dul !!!






posted from Bloggeroid

Wednesday, July 23, 2014

CANTIK DAN PEDULI

“si cantik saja peduli“ kata seorang teman di akun sosmednya terkait seorang atlet bola voli yang cantik mendoakan palestina.

Untung gak di tambahin,
“masaaaa kamu yang jelek gak peduli“

Plis deh gak usah bawa bawa fisik tentang kepedulian kita tentang sesuatu. Kasian juga kan, kalo orang menyimpulkan bahwa si cantik itu biasanya gak pedulian.

Atau orang cantik itu memang selalu dimaklumi bila tak pedulian karena kecantikannya yang membuai.
Ah, who knows ya.
posted from Bloggeroid

Saturday, June 14, 2014

SOFT LENS DI “MATA“ SAYA

Pada suatu hari yang gak cerah cerah amat, seorang teman yang telah di diagnosa menderita miopi pernah bertanya kepada saya, sebelum dia memutuskan untuk memakai alat bantu penglihatan yang cocok.

“ribet gak sih pake soft lens?“

Sebagai pengguna soft lens yang sedang menikmati manfaatnya di tahun ke 14 ini, saya menjawab dengan pasti *supaya gak mati gaya juga sih :p.

“nggak ah, biasa aja“

Lalu meluncurlah kata demi kata tentang pengalaman menarik saya menggunakan alat bantu mata miop yang berbahan Florosilicone-acrylate atau FSA itu.

Beberapa hari kemudian, teman saya itu muncul dengan sebentuk kacamata indah membingkai matanya
*provokasi yang tidak berhasil, beuuuh.

Soft lens adalah lensa kontak generasi kedua setelah hard lens. Sesuai dengan namanya soft lens lebih lembut dan fleksible dibanding hard lens. Ide tentang lensa kontak ini sebenarnya sudah dituangkan oleh Leonardo da vinci dalam essainya yang berjudul Codex of the eye : manual D, tapi baru beberapa ratus tahun kemudian, apa yang di tuliskan Da vinci itu dapat terwujud.

Memakai soft lens itu ada enaknya ada juga gak enaknya.

Enaknya adalah :
*Gak bakal takut lensanya pecah, tergores atau rusak framenya kalo kita petakilan dalam gaya apapun :D.
*Gak usah ngelap lensa yang berembun kalo lagi makan mie instan panas panas dan deket deket :D (guweh aja kalee)
*Gak ada acara di miscall karena lupa naro :D

Gak enaknya adalah :

* Gak boleh kucek kucek mata, karena bisa mengakibatkan :
~ soft lens hilang entah kemana. Saya pernah ngucek mata di atas motor yang sedang berlari kencang dan alhamdulillah soft lens sebelah kiri saya copot lalu hilang di bawa angin.
~ soft lens melipat dan bergeser letaknya, biasanya masuk ke dalam kelopak mata atas, ini ngambilnya lumayan susah, kadang harus minta bantuan orang lain.
~ soft lens sobek atau menjadi cacat, saya pernah memakai soft lens yang sedikit sobek pinggirnya karena belum sempat beli yang baru dan rasa nya ganggu banget.
~ bulu mata masuk dan itu gaaak enaak bangeeeettt, kadang sampe bercucuran air mata kayak sedang nonton filmnya Paul Walker “Eight Below“ di scene Max sedang nungguin Maya yang terluka.

* Tangan harus selalu bersih ketika memakai dan melepaskan soft lens. Gak bisa tiba tiba setelah makan sambel pake tangan, kita langsung nyopot soft lens (pengennya sih bisa).
Saya pernah tidak menyabuni dan membersihkan tangan secara benar setelah bergelut dengan irisan cabai, hasilnya mata saya pun seakan terbakar ketika memasang soft lens esok harinya.

* Mata kering ketika terlalu lama berada di ruangan ber AC, di depan layar komputer, di tempat yang terlalu dingin atau terlalu panas, ini biasanya membuat penglihatan menjadi buram dan soft lens seakan akan mau kabur tapi di peluk erat oleh mata. Solusinya gampang, kalo gak ditetesi obat tetes khusus atau solutions bisa juga dengan mengeluarkan air mata alias menangis.

* Gak bisa tidur sembarangan, bila pun iya maka akibatnya mata menjadi sedikit kesat, kalo gigi kesat tandanya oke, kalo mata kesat yang ada rasanya gak enak banget, berasa rapet gak karuan.

* Harus rajin men treatment soft lens dengan obatnya, untuk membersihkan protein protein yang tertinggal dan mengembalikan elastisitas soft lens. Bila telat ngobatin soft lens, maka ada beberapa hal gak enak yang dapat terjadi. Yang pernah saya alami diantaranya, ketika berjalan kadang merasa melayang, penglihatan gak fokus, ada yang seperti mengganjal di mata, pusing, gatal, dan mata perih :D.

* Suka terbalik masang. Kayaknya ini gak mungkin banget ya secara tempat soft lens itu kan ada tandanya, left dan right. Tapi bagi saya yang ceroboh ini, hal kayak gitu sering terjadi, dengan besar minus yang berlainan, terbalik masang adalah hal yang paling nyebelin plus menyadarkan diri ini kenapa begitu once nya sampe huruf L di cover case itu gak keliatan. Selain terbalik left dan right nya, kadang soft lens bisa terbalik permukaannya ketika sedang di cuci, dan hasilnya bila di pakai dapat menimbulkan soft lens mudah copot dari kornea dan adanya perasaan ganjil di mata.

* Harus ganti sesuai dengan jangka waktunya, dari yang harian sampai yang satu tahunan. Soft lens minus dengan jangka waktu lama atau satu tahunan kini agak sulit di temukan, apalagi untuk minus minus besar.

* Untuk yang mempunyai mata sensitif, memakai soft lens seringkali membuat alergi dan iritasi.

Kedengerannya lebay banget ya, tapi itulah yang saya rasakan sebagai pengguna soft lens minus.

Bagi para penderita miopi atau astigmatis yang gak suka pakai kacamata, memakai soft lens adalah hal yang bisa menjadi pilihan, tapi disarankan untuk memakai soft lens maksimal 20 jam sehari saja, kecuali bila memakai lensa kontak berjenis RGP (Rigid Gas Permeable) yaitu lensa kontak yang mempunyai daya hantar Oksigen dan Karbondioksida yang baik. Dengan RGP, hal hal gak enak yang saya alami diatas jaaauuh lebih sedikit terjadi. Harga RGP lumayan jauh dengan soft lens biasa, yaitu sekitar 12 kali lipatnya. Bagi yang akan di lasik, pemakaian RGP ini sangat direkomendasikan, karena bisa menstabilkan besaran minus, yang merupakan salah satu persyaratan untuk menjalani lasik.

Akhir kata, pilihan ada di masing masing individu, mana yang cocok buat diri sendiri belum tentu cocok buat orang lain.

Ya udah deh, sayonara, goodbye.



















Tuesday, June 10, 2014

MODE DULU DAN SEKARANG ITU BEDA : YAEYALAH

Suatu hari di kala kita duduk di tepi pantaaaaii ...
Eh salah, suatu hari disaat kami sedang berjalan jalaaaaaannn .....
Dan memandang ....

“Disini banyak cewek yang pake celana gemes ta te, seger te“ kata keponakan saya yang ngakunya paling ganteng diantara teman teman ceweknya :p.
“celana gemes?“ tanya saya keheranan.
“lha iya, celana gemes te, hotpants“ jawab keponakan saya sambil nyengir.
Mmmhhh, celana gemes sama dengan hotpants, baiklah.

Mengamati mode yang sedang berkembang pada kawula muda jaman sekarang itu adalah salah satu hal yang menarik. Menarik untuk di simak juga untuk di protes heuheu. Banyak gaya, banyak rupa dan banyak warna. Dari gaya emo yang serba miring (rambut nya aja kalee :p), gothik yang serba misterius, punk yang serba rancung, underground yang serba hitam mengancam, hiphop yang serba nyantai, sporty yang serba keolahragaragaan (phuuiiffh), vintage yang serba klasik, sampai gaya allay yang serba lebay melambay dan lain sebagainya. Lalu dari yang berupa celana gemes eh hotpants lengkap dengan tanktopnya, chino dengan bagian kaki yang di gulung, skinny, baggy, saggy, legging, jegging, megging sampe celana boxer yang sengaja di tongolin keluar dari balik jeans hipsternya . Dari warna warna monokromatis, polikromatis, melankolins, romantis sampai warna warna kontras abis.
Kalo kata Dzawin, salah satu komika di suci 4, sekarang ini ada juga yang namanya gaya random, misalnya, tangan reggae, atas sporty bawah hip hop, gak masyalah, gak da yang brisik. Beda banget dengan jaman saya remaji dulu, disamping urusan mode gak sehebat sekarang, banyak yang masih berisik, kasih kasih komentar gak jelas, jadi tingkat ke PD an melemah *guweh ajah kalee* sampai mempengaruhi IHSG di pasar saham pergaulan.

Seperti yang pernah saya alami dulu. Suatu hari entah bagaimana celana jeans saya yang jumlahnya cuma 3 biji doang, basah semua, kemeja dan tshirt belum pada di setrika, ngaduk ngaduk lemari,dapetnya sweater bercapucon lebay, ngaduk ngaduk lemari bokap nemu celana cutbray model taun 70 an, atas rap bawah elvis, kaki sneakers kw an, ekspresif, anti mainstream, norak haha. Sampe kampus, teman saya, si abang, langsung nanya dengan sewotnya :
“lu mau olahraga dimana?“
“bukan mau olahraga lagee, cuma mau jogging muter lapangan bola“. Brisik!

Saya dulu hobi memakai kemeja flannel kotak kotak, bukan karena anggota PA atau ngikutin mode anak anak grunge, gaaaak, tapi karena kebetulan bokap saya dulu kerjaan sampingannya jualan tu barang.
Daan ada aja yang komentar :
“eh koy, tiap malem kayaknya gak pernah tidur ya?“
“emang kenapa?“
“tu, baju di kotak kotakin semua“
Beuuuuh, brisikk!!

Dulu pake rok adalah suatu hal yang gak biasa, apalagi bagi saya yang kerjaannya petakilan di atas bis kota. Praktek bank adalah salah satu mata kuliah yang mengharuskan saya memakai rok, bunga bunga, panjang bak Cinderella. Suatu hari sepulang dari Dufan main arung jeram basah basahan, sedangkan hari itu harus langsung kuliah praktek bank, jadi dengan sangat melambai dipakailah rok seragam sejak dari awal, biasanya rok dibawa, ganti nya ntaran. Nah yang kayak gini nih bukan lagi di komentarin tapi di sorakin. Berangkatnya disorakin, pulangnya di sorakin, rame rame bak supporter bola. Brisikk tingkat kesebalasan.

Salah satu setelan paporit saya adalah celana jeans dan tshirt hitam, biasa banget, seharusnya udah gak ada yang brisik lagi lah. Tapi ternyata masih adaaaa ajaaa yang komentar. Ketika berjalan dengan seorang teman, ada kakak angkatan yang tadinya mengendap endap di belakang, tiba tiba menyalip dengan lihai, sambil menatap nanar dan berkomentar :
“eeeeh sugan teh lalaki, iiih siga lalaki ih“
Jiaaaaah, brisik buibu tingkat dua !!

Nih kalo brisik terus, lantas guweh pake apah?

Dulu setiap orang punya gaya nya masing masing semacam trademark gitulah, entah karena punya prinsip mode yang kuat entah karena koleksi bajunya cuma itu itu aja :p.
Yaa seputar jeans, tshirt, kemeja, sweater, cutter, vedder #eh. Gak kayak jaman sekarang, waaaah meriah banget deh sampe sampe mengangga terngeces ngeces mulut ini di buatnya. Kampus udah kayak ajang peragaan busana tingkat desa.

Dulu ketika berangkat kerja saya sering bertemu dengan mahasiswi ini, cantik, hidung sama kuping di piercing, gak cuma satu tapi banyak, eyeliner membingkai matanya, rambutnya gaya emo miring ke samping, bajunya tshirt hitam yang ada bling bling, ikat pinggang spike dengan jeans ketat bak legging, sepatunya boot, tangannya penuh dengan gelang krincang krincing, campuran gipsy, gothik, emo dan punk, lengkap banget cyiiin!!!
I wonder, apa yang bakal di katakan dosennya ketika melihat mahasiswinya bergaya demikian? Nothing? Ah, there‘s no such thing as nothing kata Chriss Cornel juga :D

Berpenampilan itu memang hak masing masing individu sepenuhnya, tapi alangkah baiknya bila di sesuaikan dengan acaranya, tak elok rupanya bila kuliah memakai celana gemes yang bikin gemes sesama, bukan apa apa, bikin ribet yang liatnya aja :D
Tapi gak mungkin juga kali ya pake yang gemes gemes ketika kuliah di dunia nyata, yang aneh aneh itu kan cuma ada di dunia sinetron kita.
*jiaaaaah brisssiiiik.
*sumpel mulut sendiri.

posted from Bloggeroid