Showing posts with label wisata. Show all posts
Showing posts with label wisata. Show all posts

Tuesday, July 12, 2016

BUKIT PANEMBONGAN KUNINGAN

Berbekal google maps, akhirnya saya touch down juga di bukit yang lagi hits banget di Kuningan, yaitu bukit Panembongan. Bukit ini mirip mirip bukit bintang nya Moko. Kata Bapak polhut yang katanya di turunkan langsung dari Jakarta bukan dari langit, bukit panembongan ini ketenaran nya satu tingkat di bawah Moko. Ja bener baaeeee.

Jalan menuju ke desa tembong dimana sang bukit berada itu bagaikan roda kehidupan, kadang naik kadang turun. Aeh kok sounds like permainan ular tangga ya, jaaa bener baaeee maning. Tanjakan dan turunannya sangat ekstrim, dengan keadaan jalan yang bervariasi. Ada yang di beton, di aspal, jalan berbatu dan jalan tanah yang berdebu. Yang gak ada cuma jalan jalan di tunjungan, karena itu adalah syair lagu.


Karena halnya sedang ada dalam kepopuleran, maka tak ayal pengunjungnya pun membludak, pabalatak, menuh menuhin tempat. Wisatawan lokal dengan berbagai gaya, dari yang bergaya casual, allay, motorcrosseran, formal, sampai sarungan dan cadaran. Semua gak mau ketinggalan menghabiskan liburan di bukit dengan panorama yang tak semenjana itu.

Monday, June 16, 2014

KAMPUNG CAI RANCAUPAS CIWIDEY


gerbang sport centre TWA Cimanggu
lokasi kemping

kolam besar lengkap dengan ember tumpahnya
jembatan penangkaran rusa




kolam kecil
outbound tegal kawani



toilet di kampung cai



kolam besar
Rancaupas adalah salah satu lokasi bumi perkemahan yang terkenal di Bandung Selatan.  Terletak di daerah wisata Ciwidey membuat Rancaupas menjadi salah satu daya tarik wisata bagi para turis asing dan lokal.

Saya sudah beberapa kali mengunjungi bumi perkemahan itu, terakhir di tahun 1995, kemping secara independen bersama teman teman satu perguruan bimbel dan yang kedua secara lembaga dengan kampus yaitu dalam acara mabim mahasiswa baru.

dulu Rancaupas gak seteratur sekarang ini,  mendirikan tenda bisa dimana saja, pohon dan ilalang nya tidak terawat.  Tapi kini Rancaupas disulap menjadi tempat wisata yang menyenangkan karena selain bumi perkemahan, di sana juga terdapat obyek wisata baru berupa kolam renang air hangat berjudul  KAMPUNG CAI serta fasilitas outbond bernama TEGAL KAWANI.

tempat bilas
Sabtu kemarin saya backpackeran mengunjungi Rancaupas.  Masuk dari gerbang Sport Centre berbasis alam milik TWA Cimanggu yang belum beroperasi.  Di tempat ini bisa dijumpai gedung gedung kosong bercat hijau, jogging track, tempat duduk duduk, mushola, peralatan fitnes dari besi besi yang di tempa menyatu dengan tanah beralaskan semen,  didesain sedemikian rupa berpadu dengan lingkungan yang asri.  Tapi sayang agak tidak terawat, mungkin karena belum atau mandek beroperasi.

Gerbang tiket masuk rancaupas terletak tidak jauh dari situ,  bagi yang berkendara, wajib membeli tiket masuk tapi bagi pejalan kaki seperti saya, cukup membelot di gerbang sampingnya tanpa membeli tiket :D.

Memasuki lokasi Rancaupas, saya langsung disuguhi pemandangan menyenangkan dengan warna warni tenda yang didirikan oleh para kmpingers.  Lokasi kemping kini di fokuskan di sebelah kanan pintu masuk.  Sebelah kirinya adalah lokasi outbound dan wahana wisata air kampung cai.  Sedangkan bagian belakang terdapat tempat penangkaran rusa serta lokasi parkir kendaraan kendaraan sedang sampai besar.

Tiket masuk ke Kampung Cai  adalah sebesar Rp. 15.000,- saja.  Begitu masuk lokasi, saya disuguhi dengan pemandangan kolam renang yang airnya membiru.  Di bandingkan dengan Ciwalini yang terkenal kondang itu, kolam disini lebih bersih walaupun airnya tidak sepanas di Ciwalini.  Disediakan kamar bilas yang memadai dengan Toilet di dalamnya.  Sebenarnya masih ada dua toilet nganggur di luar kamar bilas, tetapi keaadaannya tidak terawat sehingga akhirnya tidak digunakan.
Di dalam lokasi kampung cai itu juga terdapat warung tempat membeli makanan kecil lengkap dengan kursi dan mejanya, counter souvenir kaos serta ruang tunggu yang terlihat nyaman.

Kolam renang di sini ada dua buah.  Yang satu khusus untuk pengunjung balita dan kolam yang kedua adalah kolam yang agak dalam lengkap dengan ember tumpah dan prosotan yang berliku liku.
Dipinggir kolam besar terdapat undakan ke bawah menuju lapangan yang lumayan luas, tempat para pengunjung duduk duduk, bermain bola, menikmati suasana alam yang syahdu.  Disitu pula terdapat beberapa sarana permainan anak berupa ayunan, jungkat jungkit dan lainnya.  satu yang kurang di lokasi ini adalah tempat sampah.  Dengan tempat yang begitu luas, tempat sampahnya hanya ada di satu lokasi saja.

Dibelakang lokasi Kampung Cai terdapat tempat penangkaran rusa, kita bisa memberi makan rusa dengan membeli satu kantong wortel mentah yang dibandrol seharga 5 ribu rupiah saja.

Mau berwisata itu gak harus ngeluarin dana yang besar, cukup dengan 15 ribu rupiah, kita bisa bersantai sejenak untuk melonggarkan pikiran yang penat karena beban pekerjaan yang menumpuk selama beberapa hari kebelakang.


Monday, December 30, 2013

CIWALINI

Liburan kali ini, saya dan keluarga pergi nengokin salah satu pemandian air panas di Ciwidey. Ciwalini adalah kolam paporit saya karena menurut saya ciwalini ini lumayan bersih lah ya dibanding kolam satu lagi.

Berangkat dari rumah jam 6 pagi dan merasa PD akan menjadi pengunjung pertama, tapi waw ketika baru saja memasuki gerbang, antrian mobil sudah berjajar, di lapangan parkir sudah menumpuk kendaraan para pengunjung yang datang lebih pagi tentunya.

Harga Tiket Masuknya Rp. 16.000,- perorang, belum termasuk kendaraan.  Bila ingin masuk kolam balita dan kolam yang agak privat, bayar lagi Rp. 5.000,- per orang.  Di sini terdapat pula terapi ikan Rp. 15.000,- kolam rendam Rp. 20.000,.
Bila ingin ke toilet bayar Rp.2.000,-, sewa ban Rp. 3.000,- dan sewa tikar Rp. 15.000,-.

Musim liburan gini pengunjungnya seabreg abreg, gak nyaman banget, KAYAK CENDOL.

Published with Blogger-droid v2.0.10

TAMAN AIR SITU LEMBANG CIWIDEY

Namanya Taman air Situ Lembang tapi jangan salah tempatnya bukan di Lembang melainkan di Ciwidey.

Taman air situ lembang ini adalah salah satu obyek wisata yang keberadaannya belum begitu lama.  Obyek wisata ini berada di tengah tengah perkebunan teh ptpn berapa ya, ah ya pokoknya  daerah rancabali deh gitu.
HTM nya Rp. 5.000,- per orang.   Tempat ini nampaknya belum di kelola secara profesional, terlihat dari para petugas yang berjaga dan pengelolaan tempatnya.

Di dalam obyek wisata ini terdapat air terjun kecil dan besar yang di hiasi dengan bebatuan, gazebo atau saung  plus tikar dengan sewa Rp. 20.000,- , fasilitas outbound, kolam pancing, dan sepeda air.  Fasilitas yang tersedia adalah mushola, kantin, dan toilet.

Tempat ini cocok untuk dijadikan tempat istirahat, piknik atau pun hanya sekedar berfoto foto saja.

Mau coba? Lokasinya tidak jauh kok dari kolam pemandian Ciwalini.

Published with Blogger-droid v2.0.10

Monday, August 27, 2012

OPEN SPACE GALLERY

Satu lagi tempat nongkrong di kawasan linggarjati kuningan, dengan background gunung ceremai yang megah dan pemandangan terasering sawah nan elok.
Open space gallery ini merupakan tempat yang diperuntukan sebagai kawasan terbuka untuk segala kegiatan yang bersifat masal, misalnya konser musik dan manasik haji.
Untuk memasuki kawasan ini, setiap pengunjung di kenai tarif 2ribu rupiah saja, kecuali bila dengan isengnya lompat atau menerobos pagar yang memang sudah banyak yang bolong gak terurus *heran, padahal tempat ini berdiri belum begitu lama*.

Di tempat ini terdapat beberapa gazebo yang bisa digunakan untuk sekedar berleha leha dan menikmati pemandangan yang lumayan indah.
Terdapat pula kolam terapi ikan yang lumayan besar, tapi sayangnya ikan2 nya besar2 gak seperti layaknya ikan untuk terapi sejenis.
Untuk camilan ada pedagang makanan ringan dan pedagang tahu gejrot dengan harga 4rb satu porsinya.

Fasilitas umum yang tersedia adalah mushola, toilet, serta kantor pusat informasi wisata kota kuningan.

Published with Blogger-droid v2.0.6

LINGGARJATI INDAH

Linggarjati Indah adalah obyek wisata di kawasan linggarjati kuningan yang berada tepat di kaki gunung ceremai.
Untuk memasuki kawasan wisata ini, harga tiketnya untuk dewasa di bandrol 4ribu rupiah dan untuk anak anak 3ribu rupiah saja.  Kecuali bila masuknya sebelum jam buka bisa gratis :))
Begitu kami memasuki area wisata ini, kami langsung disuguhi pemandangan kolam renang di sisi sebelah kanan.
Untuk memasuki area kolam renang ini, kami harus membeli tiket lagi yaitu sebesar 10ribu rupiah baik anak ataupun dewasa (tahun lalu hanya 7ribu rupiah saja).
Kolam yang tersedia disana ada 5 tempat.  Kolam terbesar adalah kolam dengan kedalaman sampai 3 meter, lalu ada kolam untuk anak anak yang tepat ditengahnya ada arena prosotan dan seluncuran, kolam ketiga adalah kolam untuk anak juga dengan berbagai pancuran, kolam keempat adalah kolam ember tumpah (dengan hiasan beberapa ikan kecil di dalamnya) dan kolam kelima yang terletak di bawah adalah kolam dengan kedalaman 1 meter yang merupakan ujung seluncuran panjang.
Dikolam yg besar juga disediakan seluncuran yang sedikit ekstrim.
Berhubung kami datang kesana masih agak pagi, air dan udaranya begitu dingin, angin yang berhembus kencang membuat badan menggigil.
Di area kolam ini juga tersedia kolam terapi ikan di bagian bawah, mushola dan warung2 makanan yang alhamdulillah harganya duakali lipat harga normal.
Kamar bilas yang disediakan ada 3 macam, pertama kamar bilas gratisan yang sifatnya umum agak melambai karena bergorden, yang kedua kamar bilas air dingin dengan tarif 2ribu rupiah perorang, dan kamar bilas air panas dengan tarif 5ribu rupiah perorang.

Selain kolam renang, linggarjati indah juga menyediakan berbagai fasilitas wisata yang lain seperti sepeda air, kereta2an untuk anak, outbond, tempat memancing, naik kuda, dan lainnya.  Untuk tempat makan, banyak warung yang tersedia disana, tak ketinggalan juga para penjual souvenir banyak berderet di pinggir2 jalan area obyek wisata ini.

Apabila sekiranya ingin menikmati suasana malam disana, linggarjati indah telah menyediakan penginapan2 di dalam lokasi wisata ini.


Published with Blogger-droid v2.0.6

Tuesday, April 26, 2011

LINTAS ALAM THR DJUANDA - MARIBAYA

Minggu pagi kemarin, kami, para angkoters berangkat jalan2 lintas alam.  Tujuan kami adalah Taman Hutan Raya Djuanda atau Dago Pakkar tembus ke Maribaya lembang. Subuh jam 5 start dari rumah, jalanan masih sepi tapi penumpang angkot fully loaded.  Jarak rumah - Ijan  hanya memakan waktu kira kira 25 menit saja, bandingkan dengan hari biasa beranjak siang waktu yang ditempuh bisa sampai 1.5 jam an, tarif per orang Rp. 3.000,- saja.  Disambung dengan menggunakan angkot Abdul Muis - Dago dengan tarif yang sama.  Turun di terminal Dago sambil menunggu anggota angkoters lainnya kami berjalan kami menuju ke THR Djuanda yang berjarak kira kira 1.5 km.  Lumayan ngos2an juga karena jalanan menanjak.
Tiket masuk THR Djuanda Rp. 8.000,- per orang, si kokom ga pake bayar bonus kata om penjaga tiket masih keciiiilllll ...........
Begitu masuk lokasi hmmmm .... segeeerrr .... suasana hutan yang rindang, embun pagi yang masih menetes, semburat sinar matahari diantara pepohonan, ditambah kebersihan hutan yang terjaga membuat kami merasa nyaman.  Toilet di THR lumayan bersih, hanya airnya rada butek ... tapi over all kebersihan THR ini memang dijaga oleh pengelolanya.




Setelah para angkoters berkumpul, dimulailah perjalanan menuju air terjun Maribaya yang jaraknya kira kira 5 km.
Kami mengambil jalan ke bawah menuju Gua Jepang, di mulut Gua sudah banyak para ojek senter menawarkan jasanya, satu senter dibandrol Rp. 3.000,- tapi belum termasuk jasa guide bila ingin diantar memasuki Gua Jepang tersebut.  Berhubung kami sudah pernah memasuki Gua Jepang sebelumnya, jadi kami lewatka saja kesempatan itu.





Kembali kami menyusuri jalan bebatuan yang cukup tertata rapi, sedikit becek karena semalam hujan turun.  Sampailah kami ke Gua Belanda, Gua Belanda ini adalah jalan tembus menuju ke jalur berikutnya menuju air terjun.  Kami memasuki Gua belanda tanpa senter karena memang ga terlalu gelap2 amat.
Setelah keluar dari Gua Belanda, kami meneruskan perjalanan, jalanan yang kami tempuh mulai menguras tenaga ... becek juga sesekali ada tanjakan yang lumayan bikin kaki pegel.  Yang bikin kesel adalah motor en ojek motor yang seliweran sangat menggangu para pejalan kaki ... masa lintas alam tapi pake motor aneh bangettt.........
Mulai cape kami beristirahat sebentar di perhentian berupa warung2 kecil yang menyediakan penganan kecil sambil memandangi tingkah polah monyet2 hutan.
Setelah memakan waktu 1.5 jam berjalan akhirnya kami sampai di air terjun Maribaya, melewati jembatan merah yang punya kapasitas lintas yaitu maksimal 5 orang.

Air terjun Maribaya memang indah tapi sayang keadaan sekitarnya kotor, banyak sampah nyangkut dimana mana, airnya berbuih dan berbusa terkena polusi rumah tangga atau mungkin saja pabrik yang tidak bertanggung jawab.  Setelah mengaso sebentar akhirnya kami memutuskan pulang karena hujan mulai turun.







Di Maribaya selain kita bisa menikmati air terjun nya, juga terdapat pemandian air panas dengan tarif Rp. 3.000,- per orang, juga terdapat kolam renang bagi anak anak di bagian depan, gazebo untuk pertemuan, warung warung penyedia makanan juga souvenir.
Kami turun menuju Lembang kota dengan menggunakan angkot bukaan belakang alias pintu belakang (hmm.. jadi inget angkot jaman kuliah dulu, persis sama), Tarifnya Rp. 4.000,- per orang, setelah sampai di Lembang, kami sempatkan berkunjung ke Tahu Tauhid di Cijeruk ( tahu mini box kecil isi 20 biji di bandrol Rp. 11.000,- saja, yang besar Rp. 18.000,-, dan untuk isi 10 biji harganya Rp. 5.500,-), dan membeli ketan bakar titipan simbah.   Turun ke Bandung menumpang angkot Lembang Ciroyom, tarif nya Rp. 4.000,- perorang, berhubung macet, sang angkot putar jalur lewat Cihideung.  Turun di Terminal Ledeng, kami naik Bis kesayangan apalagi kalo bukan bis Damri, dengan Rp. 2.000,- perjalanan Ledeng - Leuwi Panjang menjadi Murah Meriah walaupun seperti biasa di dalem bis memang sagala ayaaa..... hehehehe ....
Tiba di Leuwi Panjang kami menumpang agkot Soreang kembali.  Sampai di rumah pukul 4 sore.

Wednesday, October 20, 2010

BUS DAMRI AND ME

Pulang dari Kuningan ceritanyan mau nyoba naik bus Damri.  Bila hari biasa untuk bisa duduk nyaman, kami bisa menunggu di sepanjang jalur yang dilintasinya.  Tapi tidak untuk hari hari usai Lebaran, bila sekiranya ingin duduk nyaman terpaksa harus datang langsung ke Pool nya di daerah Ciawi atau keTerminal Kertawangunan.
Terminal Kertawangunan adalah terimal Tipe A yang dibangun untuk menggantikan Terminal Cirendang, lokasinya lumayan jauh dari rumah yang berada di sekitar Bandorasa, kira2 memakan waktu 30 menit perjalanan.

Dari luar terminal Kertawangunan terlihat begitu megah,  tidaklah heran karena terminal tersebut telah menghabiskan dana Rp.22.5 Miliar yang diambil dari APBD tahun 2006 - 2008.  Dengan luas sekitar 5 hektare, terminal tersebut dapat menampung sekitar 200 an bus serta ratusan angkutan umum.  Tapi begitu kami memasuki terminal tersebut alangkah terheran herannya kami dengan keadaannya yang begitu memprihatikan. Banyak bangunan yang kosong, terbengkalai dan tidak terawat, rumputnya tinggi tinggi, toilet nya kotor belum lagi air dari krannya tidak ada yang mengalir, yang ada hanya air di ember kecil, dan harus bayar pula.

Di kompleks terminal tersebut berdiri juga masjid, lumayan besar, tapi lagi lagi toiletnya bukan main kotornya, penuh dengan kotoran burung, di masjid ini air cukup berlimpah tapi saluran pembuangannya yang tersumbat sehingga membuat genangan air di sekitar toilet dan tempat wudhu.
Bus bus dan angkutan umum hanya numpang lewat saja, keadaannya begitu sepi tidak seperti terminal Tipe A pada umumnya.

Begitu kami sampai, bus Damri yang cuma satu satunya telah penuh dan siap berangkat, terpaksa kami menunggu keberangkatan berikutnya. Sebelumnya kami tidak mengetahui jam-jam keberangkatan Damri dari Kuningan, sebelumnya kami telah mencoba menelepon terminal Kertawangunan, Cicaheum, pool Damri bahkan hotline service Damri semua silent ga da yang angkat, dan setelah kami sampai di terminal dan mengkonfirmasikan hal tersebut kepada petugasnya, blio cuma bilang " kenapa ga telpon nomor ini saja, sambil menunjuk sederetan angka yang membentuk nomor HP"  Gubrakkk!!!!

Karena saat itu arus balik maka kami harus meminta nomor kepada petugas  agar nantinya kami dapat tempat duduk.  Setelah hampir 4 jam kami menunggu, akhirnya Bus pun datang, yang tidak mendapat nomor dari peugas bisa ikut naik asalkan mau duduk di kursi plastik yang disediakan petugas... hehehe.... aneh2 aja niy Damri.  Bus Damri trayek Kuningan Bandung ini memang brand new, Euro 3 kata om.drivernya, 4 silinder, kata blio sebenernya Bus ini cocoknya buat para pejabat yang mau jalan2 santai, ga bisa dibawa offroad hihihihii.... ga kuat tanjakan.....

Tiket Lebaran ini dibandrol Rp. 40.000,- bila hari biasa hanya Rp. 35.000,-, berhubung kemarin terjadi kemacetan di jalur Damri maka, dengan sigap om driver putar arah lewat Cikijing, tapi teuteup aja ketemu macet di Sumedang, berhubung sampai Bandung sudah malam maka kami langsung ke Pool nya di kebon kawung.  Perjalanan yang sangat melelahkan hampir sama waktunya dengan perjalanan ke Jogja kemarin dulu pfuiiihh..... kayaknya bakal pikir2 lagi deh kalo mau naik Damri deket2 Lebaran.

Jadwal keberangkatan Bus Damri
Kuningan - Bandung
Jam : 06.00 - 07.00 - 08.00 - 13.00 - 14.00 - 15.00
Bandung - Kuningan
Jam : 07.00 - 08.00 - 09.00 - 11.30 - 13.30 - 15.30

Bandung - Indramayu
 Jam : 05.00 - 05.30 - 10.30 - 14.00 - 15.30
Indramayu - Bandung
Jam : 05.00 - 05.30 - 10.30 - 14.00 - 15.00

picture by google


Wednesday, October 6, 2010

JALUR PANTAI SELATAN NAN EKSOTIS

Hari minggu lalu, dengan cuaca yang tidak cukup cerah, dimulailah perjalanan untuk menelusuri jalur pantai selatan yang katanya eksotis.  Perjalanan diawali dari jembatan sungai Citarum, Bojong Buah, Cilampeni, pada pukul 6 pagi.  Suasana jalan masih lenggang sehingga saat mencapai alun alun Ciwidey waktu baru menunjukan pukul 6.30 WIB, berhubung perut belum diisi maka disempatkan untuk makan kupat tahu dulu di alun alun Ciwidey, lumayan murah, dengan 5000 perak, diperoleh kupat tahu yang gak ngecewain.

Perjalanan kami teruskan pada pukul 6.51 WIB dimana mencapai Situ Patengan pada pukul 7.26 WIB, perjalanan diteruskan melalui rute yang berkelok kelok.












Diatas adalah pemandangan yang berhasil di jepret sepanjang jalan arah Naringgul.

Setelah melewati jalan yang berkelok kelok indah sampailah di tugu Rancabali/Baligede pada pukul 8.03 WIB.
Hmmm.... vandalisme ada dimana mana....

Perjalanan dilanjutkan, dan akhirnya tampaklah jempatan Cipandak yang merupakan tempat curahan dari 7 air terjun yang sangat indah bila dilihat dari jalan raya pada pukul 8.24 WIB.










Memang asyik ada air terjun di pinggir jalan......


Perjalanan dilanjutkan sehingga saat sampai Desa Naringgul waktu telah menunjukkan pukul 8.59 WIB, matahari baru muncul ketika waktu menunjukkan pukul 9.07 WIB.  Sampai Tugu batas Kab. Cianjur pukul 9.53 dengan kondisi jalan hanya 40 % saja (maklum bukan daerah kekuasaan wilayah kab Bandung he he he..).

Pemandangan yang dapat dilihat dari dataran yang tertinggi pada pukul 10.15 WIB, sehingga bisa dilihat dengan jelas pemandangan Cianjur Selatan, eh... ada selingan nih ketemu mobil mogok pukul 10.35 WIB sehingga perjalanan sedikit terganggu, tapi no problem soalnya terbayar dengan pemandangan yang indah.  Akhirnya sampailah di jembatan Cidaun pada pukul 10.52 WIB sehingga jarak yang ditempuh kira kira telah 95 km.  Setelah itu kami sempat melewati jembatan Cidamar yang akhirnya menghantarkan perjalanan kami  ke Pantai Jayanti pada pukul 11.09 WIB.













Jadi jarak yang di tempuh dari Jembatan Citarum Cilampeni sampai pantai Jayanti kira kira 100 meter, dengan waktu tempuh kira kira 5 jam.
Pada pukul 11.42 WIB, kami meneruskan perjalanan ke pantai Rancabuaya yang selama perjalanan itu begitu banyak jembatan yang dilewati mungkin sekitar 10 buah jembatan kalo ga salah ...
Kondisi jembatan2 tersebut bagus dan jalan yang dilewati sepanjang pantai selatan itu sangat mulus.  Bagaimana tidak mengasikan pada saat berkendara pemandangan sebelah kanan adalah pesisir pantai dengan ombaknya yang berbuih putih, sementara di sebelah kiri jalan sepanjang mata memandang hanya warna hijau yang terlihat.  Akhirnya kami sampai di pantai Rancabuaya pada pukul 12.44 WIB dengan jaraj tempuh dari jembatan Citarum Cilampeni 127 km.


Vila satu2nya di pantai Rancabuaya


Bila kita ingin menginap di pantai Rancabuaya ada 3 kompleks penginapan dengan nama Vila Jaya Sakti 1 - 3 dengan harga sewa berkisar antara Rp. 150.000 - Rp. 300.000,-  (sttt... gosipnya kompleks penginapan tsb punya Bpk. Hadi Gunawan Orang Bina Marga).  Kami sempat makan siang di pantai Rancabuaya, seafood, kami makan udang asam manis dengan harga Rp. 150.000,- per kilo - mahal juga yaaaa.... tapi gpp lah belum tentu setaun sekali makan udang asam manis di Rancabuaya hehehehhe...

Perjalanan dari pantai Rancabuaya menuju pantai Santolo  sempat terjadi hujan besar sekali sekitar 15 menit, setelah berhenti kami melihat sepanjang pantai yang kami lewati berubah warna menjadi coklat akibat tanah yang terbawa aliran sungai dari atas gunung ke muara sungai.  Tetapi sekalipun hujan pemandangan  pantai selatan punya keindahan tersendiri untuk dilihat.
 Kami sempat terjebak banjir yang mengakibatkan antrian kendaraan cukup panjang, ada beberapa jenis kendaraan yang tidak bisa melewati banjir tersebut yang mengakibatkan antrian menjadi lama.  Tapi akhirnya bankir tersebut bisa dilewati dan perjalanan bisa di teruskan.







Pada pukul 14.13 WIB, kami menuju pantai Santolo Pameungpeuk Garut, dan tiba di Santolo pada pukul 16.06 WIB, total jarak yang di tempuh dari Jembatan Citarum 160 km.







Pemandangan di pantai Santolo cukup indah dengan ombak yang tidak terlalu besar, cocok untuk bermain air apalagi buat anak anak.  Kami menyempatkan membeli ikan asin jambal roti, dengan harga Rp. 60.000/kg.  Ada hal istimewa dar pantai Santolo yaitu Mata Lembu alias keong laut yang konon menurut mitos penduduk sekitar berkhasiat untuk meningkatkan vitalitas kaum lelaki apalagi bila di barengi dengan minum bir.
Akhirnya kami memutuskan keluar dari pantai Santolo pada pukul 16.48 WIB.
Perjalanan pulang kami melewati rangkaian pegunungan Pameungpeuk - Garut dan saat melewati gunung Halimun/gunung Gelap kami sempat menikmati panorama sunset yang sangat eksotis.





Perjalanan kami lanjutkan ke kota Garut dan kami makan malam di RM. Asep Stroberi di Nagrek, lalu diteruskan ke kota Bandung dan tiba di rumah pukul 01.30 WIB karena sempat terjebak macet di Nagrek dan banjir di Rancaekek.

Total jarak tempuh :
Bandung - Jayanti - Rancabuaya - Santolo - Bandung = 320 km.

reported by wawa wiwi 'n bude dhantie