Monday, June 16, 2014

KAMPUNG CAI RANCAUPAS CIWIDEY


gerbang sport centre TWA Cimanggu
lokasi kemping

kolam besar lengkap dengan ember tumpahnya
jembatan penangkaran rusa




kolam kecil
outbound tegal kawani



toilet di kampung cai



kolam besar
Rancaupas adalah salah satu lokasi bumi perkemahan yang terkenal di Bandung Selatan.  Terletak di daerah wisata Ciwidey membuat Rancaupas menjadi salah satu daya tarik wisata bagi para turis asing dan lokal.

Saya sudah beberapa kali mengunjungi bumi perkemahan itu, terakhir di tahun 1995, kemping secara independen bersama teman teman satu perguruan bimbel dan yang kedua secara lembaga dengan kampus yaitu dalam acara mabim mahasiswa baru.

dulu Rancaupas gak seteratur sekarang ini,  mendirikan tenda bisa dimana saja, pohon dan ilalang nya tidak terawat.  Tapi kini Rancaupas disulap menjadi tempat wisata yang menyenangkan karena selain bumi perkemahan, di sana juga terdapat obyek wisata baru berupa kolam renang air hangat berjudul  KAMPUNG CAI serta fasilitas outbond bernama TEGAL KAWANI.

tempat bilas
Sabtu kemarin saya backpackeran mengunjungi Rancaupas.  Masuk dari gerbang Sport Centre berbasis alam milik TWA Cimanggu yang belum beroperasi.  Di tempat ini bisa dijumpai gedung gedung kosong bercat hijau, jogging track, tempat duduk duduk, mushola, peralatan fitnes dari besi besi yang di tempa menyatu dengan tanah beralaskan semen,  didesain sedemikian rupa berpadu dengan lingkungan yang asri.  Tapi sayang agak tidak terawat, mungkin karena belum atau mandek beroperasi.

Gerbang tiket masuk rancaupas terletak tidak jauh dari situ,  bagi yang berkendara, wajib membeli tiket masuk tapi bagi pejalan kaki seperti saya, cukup membelot di gerbang sampingnya tanpa membeli tiket :D.

Memasuki lokasi Rancaupas, saya langsung disuguhi pemandangan menyenangkan dengan warna warni tenda yang didirikan oleh para kmpingers.  Lokasi kemping kini di fokuskan di sebelah kanan pintu masuk.  Sebelah kirinya adalah lokasi outbound dan wahana wisata air kampung cai.  Sedangkan bagian belakang terdapat tempat penangkaran rusa serta lokasi parkir kendaraan kendaraan sedang sampai besar.

Tiket masuk ke Kampung Cai  adalah sebesar Rp. 15.000,- saja.  Begitu masuk lokasi, saya disuguhi dengan pemandangan kolam renang yang airnya membiru.  Di bandingkan dengan Ciwalini yang terkenal kondang itu, kolam disini lebih bersih walaupun airnya tidak sepanas di Ciwalini.  Disediakan kamar bilas yang memadai dengan Toilet di dalamnya.  Sebenarnya masih ada dua toilet nganggur di luar kamar bilas, tetapi keaadaannya tidak terawat sehingga akhirnya tidak digunakan.
Di dalam lokasi kampung cai itu juga terdapat warung tempat membeli makanan kecil lengkap dengan kursi dan mejanya, counter souvenir kaos serta ruang tunggu yang terlihat nyaman.

Kolam renang di sini ada dua buah.  Yang satu khusus untuk pengunjung balita dan kolam yang kedua adalah kolam yang agak dalam lengkap dengan ember tumpah dan prosotan yang berliku liku.
Dipinggir kolam besar terdapat undakan ke bawah menuju lapangan yang lumayan luas, tempat para pengunjung duduk duduk, bermain bola, menikmati suasana alam yang syahdu.  Disitu pula terdapat beberapa sarana permainan anak berupa ayunan, jungkat jungkit dan lainnya.  satu yang kurang di lokasi ini adalah tempat sampah.  Dengan tempat yang begitu luas, tempat sampahnya hanya ada di satu lokasi saja.

Dibelakang lokasi Kampung Cai terdapat tempat penangkaran rusa, kita bisa memberi makan rusa dengan membeli satu kantong wortel mentah yang dibandrol seharga 5 ribu rupiah saja.

Mau berwisata itu gak harus ngeluarin dana yang besar, cukup dengan 15 ribu rupiah, kita bisa bersantai sejenak untuk melonggarkan pikiran yang penat karena beban pekerjaan yang menumpuk selama beberapa hari kebelakang.


Saturday, June 14, 2014

SOFT LENS DI “MATA“ SAYA

Pada suatu hari yang gak cerah cerah amat, seorang teman yang telah di diagnosa menderita miopi pernah bertanya kepada saya, sebelum dia memutuskan untuk memakai alat bantu penglihatan yang cocok.

“ribet gak sih pake soft lens?“

Sebagai pengguna soft lens yang sedang menikmati manfaatnya di tahun ke 14 ini, saya menjawab dengan pasti *supaya gak mati gaya juga sih :p.

“nggak ah, biasa aja“

Lalu meluncurlah kata demi kata tentang pengalaman menarik saya menggunakan alat bantu mata miop yang berbahan Florosilicone-acrylate atau FSA itu.

Beberapa hari kemudian, teman saya itu muncul dengan sebentuk kacamata indah membingkai matanya
*provokasi yang tidak berhasil, beuuuh.

Soft lens adalah lensa kontak generasi kedua setelah hard lens. Sesuai dengan namanya soft lens lebih lembut dan fleksible dibanding hard lens. Ide tentang lensa kontak ini sebenarnya sudah dituangkan oleh Leonardo da vinci dalam essainya yang berjudul Codex of the eye : manual D, tapi baru beberapa ratus tahun kemudian, apa yang di tuliskan Da vinci itu dapat terwujud.

Memakai soft lens itu ada enaknya ada juga gak enaknya.

Enaknya adalah :
*Gak bakal takut lensanya pecah, tergores atau rusak framenya kalo kita petakilan dalam gaya apapun :D.
*Gak usah ngelap lensa yang berembun kalo lagi makan mie instan panas panas dan deket deket :D (guweh aja kalee)
*Gak ada acara di miscall karena lupa naro :D

Gak enaknya adalah :

* Gak boleh kucek kucek mata, karena bisa mengakibatkan :
~ soft lens hilang entah kemana. Saya pernah ngucek mata di atas motor yang sedang berlari kencang dan alhamdulillah soft lens sebelah kiri saya copot lalu hilang di bawa angin.
~ soft lens melipat dan bergeser letaknya, biasanya masuk ke dalam kelopak mata atas, ini ngambilnya lumayan susah, kadang harus minta bantuan orang lain.
~ soft lens sobek atau menjadi cacat, saya pernah memakai soft lens yang sedikit sobek pinggirnya karena belum sempat beli yang baru dan rasa nya ganggu banget.
~ bulu mata masuk dan itu gaaak enaak bangeeeettt, kadang sampe bercucuran air mata kayak sedang nonton filmnya Paul Walker “Eight Below“ di scene Max sedang nungguin Maya yang terluka.

* Tangan harus selalu bersih ketika memakai dan melepaskan soft lens. Gak bisa tiba tiba setelah makan sambel pake tangan, kita langsung nyopot soft lens (pengennya sih bisa).
Saya pernah tidak menyabuni dan membersihkan tangan secara benar setelah bergelut dengan irisan cabai, hasilnya mata saya pun seakan terbakar ketika memasang soft lens esok harinya.

* Mata kering ketika terlalu lama berada di ruangan ber AC, di depan layar komputer, di tempat yang terlalu dingin atau terlalu panas, ini biasanya membuat penglihatan menjadi buram dan soft lens seakan akan mau kabur tapi di peluk erat oleh mata. Solusinya gampang, kalo gak ditetesi obat tetes khusus atau solutions bisa juga dengan mengeluarkan air mata alias menangis.

* Gak bisa tidur sembarangan, bila pun iya maka akibatnya mata menjadi sedikit kesat, kalo gigi kesat tandanya oke, kalo mata kesat yang ada rasanya gak enak banget, berasa rapet gak karuan.

* Harus rajin men treatment soft lens dengan obatnya, untuk membersihkan protein protein yang tertinggal dan mengembalikan elastisitas soft lens. Bila telat ngobatin soft lens, maka ada beberapa hal gak enak yang dapat terjadi. Yang pernah saya alami diantaranya, ketika berjalan kadang merasa melayang, penglihatan gak fokus, ada yang seperti mengganjal di mata, pusing, gatal, dan mata perih :D.

* Suka terbalik masang. Kayaknya ini gak mungkin banget ya secara tempat soft lens itu kan ada tandanya, left dan right. Tapi bagi saya yang ceroboh ini, hal kayak gitu sering terjadi, dengan besar minus yang berlainan, terbalik masang adalah hal yang paling nyebelin plus menyadarkan diri ini kenapa begitu once nya sampe huruf L di cover case itu gak keliatan. Selain terbalik left dan right nya, kadang soft lens bisa terbalik permukaannya ketika sedang di cuci, dan hasilnya bila di pakai dapat menimbulkan soft lens mudah copot dari kornea dan adanya perasaan ganjil di mata.

* Harus ganti sesuai dengan jangka waktunya, dari yang harian sampai yang satu tahunan. Soft lens minus dengan jangka waktu lama atau satu tahunan kini agak sulit di temukan, apalagi untuk minus minus besar.

* Untuk yang mempunyai mata sensitif, memakai soft lens seringkali membuat alergi dan iritasi.

Kedengerannya lebay banget ya, tapi itulah yang saya rasakan sebagai pengguna soft lens minus.

Bagi para penderita miopi atau astigmatis yang gak suka pakai kacamata, memakai soft lens adalah hal yang bisa menjadi pilihan, tapi disarankan untuk memakai soft lens maksimal 20 jam sehari saja, kecuali bila memakai lensa kontak berjenis RGP (Rigid Gas Permeable) yaitu lensa kontak yang mempunyai daya hantar Oksigen dan Karbondioksida yang baik. Dengan RGP, hal hal gak enak yang saya alami diatas jaaauuh lebih sedikit terjadi. Harga RGP lumayan jauh dengan soft lens biasa, yaitu sekitar 12 kali lipatnya. Bagi yang akan di lasik, pemakaian RGP ini sangat direkomendasikan, karena bisa menstabilkan besaran minus, yang merupakan salah satu persyaratan untuk menjalani lasik.

Akhir kata, pilihan ada di masing masing individu, mana yang cocok buat diri sendiri belum tentu cocok buat orang lain.

Ya udah deh, sayonara, goodbye.



















Tuesday, June 10, 2014

MODE DULU DAN SEKARANG ITU BEDA : YAEYALAH

Suatu hari di kala kita duduk di tepi pantaaaaii ...
Eh salah, suatu hari disaat kami sedang berjalan jalaaaaaannn .....
Dan memandang ....

“Disini banyak cewek yang pake celana gemes ta te, seger te“ kata keponakan saya yang ngakunya paling ganteng diantara teman teman ceweknya :p.
“celana gemes?“ tanya saya keheranan.
“lha iya, celana gemes te, hotpants“ jawab keponakan saya sambil nyengir.
Mmmhhh, celana gemes sama dengan hotpants, baiklah.

Mengamati mode yang sedang berkembang pada kawula muda jaman sekarang itu adalah salah satu hal yang menarik. Menarik untuk di simak juga untuk di protes heuheu. Banyak gaya, banyak rupa dan banyak warna. Dari gaya emo yang serba miring (rambut nya aja kalee :p), gothik yang serba misterius, punk yang serba rancung, underground yang serba hitam mengancam, hiphop yang serba nyantai, sporty yang serba keolahragaragaan (phuuiiffh), vintage yang serba klasik, sampai gaya allay yang serba lebay melambay dan lain sebagainya. Lalu dari yang berupa celana gemes eh hotpants lengkap dengan tanktopnya, chino dengan bagian kaki yang di gulung, skinny, baggy, saggy, legging, jegging, megging sampe celana boxer yang sengaja di tongolin keluar dari balik jeans hipsternya . Dari warna warna monokromatis, polikromatis, melankolins, romantis sampai warna warna kontras abis.
Kalo kata Dzawin, salah satu komika di suci 4, sekarang ini ada juga yang namanya gaya random, misalnya, tangan reggae, atas sporty bawah hip hop, gak masyalah, gak da yang brisik. Beda banget dengan jaman saya remaji dulu, disamping urusan mode gak sehebat sekarang, banyak yang masih berisik, kasih kasih komentar gak jelas, jadi tingkat ke PD an melemah *guweh ajah kalee* sampai mempengaruhi IHSG di pasar saham pergaulan.

Seperti yang pernah saya alami dulu. Suatu hari entah bagaimana celana jeans saya yang jumlahnya cuma 3 biji doang, basah semua, kemeja dan tshirt belum pada di setrika, ngaduk ngaduk lemari,dapetnya sweater bercapucon lebay, ngaduk ngaduk lemari bokap nemu celana cutbray model taun 70 an, atas rap bawah elvis, kaki sneakers kw an, ekspresif, anti mainstream, norak haha. Sampe kampus, teman saya, si abang, langsung nanya dengan sewotnya :
“lu mau olahraga dimana?“
“bukan mau olahraga lagee, cuma mau jogging muter lapangan bola“. Brisik!

Saya dulu hobi memakai kemeja flannel kotak kotak, bukan karena anggota PA atau ngikutin mode anak anak grunge, gaaaak, tapi karena kebetulan bokap saya dulu kerjaan sampingannya jualan tu barang.
Daan ada aja yang komentar :
“eh koy, tiap malem kayaknya gak pernah tidur ya?“
“emang kenapa?“
“tu, baju di kotak kotakin semua“
Beuuuuh, brisikk!!

Dulu pake rok adalah suatu hal yang gak biasa, apalagi bagi saya yang kerjaannya petakilan di atas bis kota. Praktek bank adalah salah satu mata kuliah yang mengharuskan saya memakai rok, bunga bunga, panjang bak Cinderella. Suatu hari sepulang dari Dufan main arung jeram basah basahan, sedangkan hari itu harus langsung kuliah praktek bank, jadi dengan sangat melambai dipakailah rok seragam sejak dari awal, biasanya rok dibawa, ganti nya ntaran. Nah yang kayak gini nih bukan lagi di komentarin tapi di sorakin. Berangkatnya disorakin, pulangnya di sorakin, rame rame bak supporter bola. Brisikk tingkat kesebalasan.

Salah satu setelan paporit saya adalah celana jeans dan tshirt hitam, biasa banget, seharusnya udah gak ada yang brisik lagi lah. Tapi ternyata masih adaaaa ajaaa yang komentar. Ketika berjalan dengan seorang teman, ada kakak angkatan yang tadinya mengendap endap di belakang, tiba tiba menyalip dengan lihai, sambil menatap nanar dan berkomentar :
“eeeeh sugan teh lalaki, iiih siga lalaki ih“
Jiaaaaah, brisik buibu tingkat dua !!

Nih kalo brisik terus, lantas guweh pake apah?

Dulu setiap orang punya gaya nya masing masing semacam trademark gitulah, entah karena punya prinsip mode yang kuat entah karena koleksi bajunya cuma itu itu aja :p.
Yaa seputar jeans, tshirt, kemeja, sweater, cutter, vedder #eh. Gak kayak jaman sekarang, waaaah meriah banget deh sampe sampe mengangga terngeces ngeces mulut ini di buatnya. Kampus udah kayak ajang peragaan busana tingkat desa.

Dulu ketika berangkat kerja saya sering bertemu dengan mahasiswi ini, cantik, hidung sama kuping di piercing, gak cuma satu tapi banyak, eyeliner membingkai matanya, rambutnya gaya emo miring ke samping, bajunya tshirt hitam yang ada bling bling, ikat pinggang spike dengan jeans ketat bak legging, sepatunya boot, tangannya penuh dengan gelang krincang krincing, campuran gipsy, gothik, emo dan punk, lengkap banget cyiiin!!!
I wonder, apa yang bakal di katakan dosennya ketika melihat mahasiswinya bergaya demikian? Nothing? Ah, there‘s no such thing as nothing kata Chriss Cornel juga :D

Berpenampilan itu memang hak masing masing individu sepenuhnya, tapi alangkah baiknya bila di sesuaikan dengan acaranya, tak elok rupanya bila kuliah memakai celana gemes yang bikin gemes sesama, bukan apa apa, bikin ribet yang liatnya aja :D
Tapi gak mungkin juga kali ya pake yang gemes gemes ketika kuliah di dunia nyata, yang aneh aneh itu kan cuma ada di dunia sinetron kita.
*jiaaaaah brisssiiiik.
*sumpel mulut sendiri.

posted from Bloggeroid

Sunday, May 25, 2014

LATIHAN PENDAHULUAN BELA NEGARA ALA POLTEK ITB

Membaca judul salah satu artikel di sebuah media online yang berbunyi : Artis Pria Tampan Korea Saat Wajib Militer, Masih Keren? Dan saya pun menjawab sambil nyengir “MASIH“. Coba liat deh Kim Jung Hoon, Pemeran pangeran ganteng Lee Yul Goon dalam salah satu drama paling
sukses sepanjang sejarah Korea,
Princess Hours itu malah lebih keren ketika sedang menjalani wamil. Bayangin, dalam dua taun ikutan wamil, tu orang masih aja terlihat keren dan keceh, lha saya? Dua minggu, pulang pulang udah kayak mimi hitam. Kalo Syahrini sih dengan gampangnya bilang, tinggal diobatin aja biar putih lagi, lha saya, tinggal bilang di jemur lagi aja biar garing kayak ikan asin.

Protes? Ah enggak, dua minggu di Pangalengan, dalam rangka melaksanakan kewajiban latihan pendahuluan bela negara atau yang lebih di kenal dengan latsardis adalah hal yang nyebelin tapi juga nyenengin. Serius.
Betapa tidak, awalnya merasa ketar ketir ngeri membayangkan apa yang bakal terjadi di dua minggu ke depan tapi akhirnya misteri ketar ketir pun terjawab dengan segala pengalaman pahit manis yang terjadi.

Saat itu hari ke sepuluh di bulan September. Berbekal kaki yang dioles ramuan bawang merah dan minyak goreng, saya memantapkan hati untuk melangkah dengan pasti dan berdoa agar ramuan itu cocok di kaki, eh bukan maksudnya memantapkan hati untuk benar benar serius mengikuti program ini, serius? Ah yang bener?

Hari pertama adalah hari yang sangat berat, dimana proses adaptasi sedang berlangsung.Pertama kali makan bareng teman teman adalah pengalaman yang menakjubkan. Betapa tidak, makan kali pertama itu horor banget. Piring plastik kami harus bersih dari segala bentuk makanan dalam waktu 3 menit, itu menyiksa sekali kawan. Dengan nasi yang super duper keras, sayur yang judulnya entah apa dengan hiasan ulat ngelel di dalamnya, dan beberapa lauk lain yang gak bikin selera makan terbit membuat piring saya totally tidak bersih. Demi menghindari teriakan galak sang komandan maka sisa nasi di piring pun bertebaran ke mana mana, ada yang di masukan ke tempat minum, ke saku baju, atau ke saku celana dengan gaya blingsatan gak karuan. Jadi inget salah satu scene film Mr.Bean di sebuah resto dimana dia menyembunyikan makanan yang gak di sukainya di tempat tempat yang absurd.
Sebenernya bersyukur banget sih, makanan kami dulu itu sudah sesuai motto 4 sehat 5 sempurna walau rasa dan penampakannya jauh dari sempurna, ya maklum aja deh yang masak kan para prajurit yang baru pulang dari Timtim bukan Chef Vindex paporit saya itu. Ah segitu juga udah uyuhan.
Paling heroik adalah ketika sedang asik asiknya menggerogoti daging ala sendal jepit, lalu tanpa di nyana pak komandan menggebrak meja, serangan udara, nyungsep deh semua ke bawah meja, hal kayak gini nih yang suka bikin tersedak alias keselek di samping makan daging sendal jepit tadi tentunya, harusnya peralatan masak ketentaraan itu di lengkapi dengan panci presto, selain hemat waktu, daging pun tak akan alot seperti sendal swallow. Tapi kebayang repotnya kalo sedang bergerilya di hutan harus bawa bawa panci presto sama gas 3 kilo.

Mandi adalah salah satu aktivitas yang di hindari, dalam rentang waktu dua minggu itu saya mandi hanya 3 kali. Seorang teman ingin memecahkan rekor tidak mandi selama 2 minggu, tapi sayang pada hari terakhir dia jatuh dalam kubangan air dan mengharuskannya bersentuhan dengan air pangalengan yang sangat dingin. Pemecahan rekor pun gagal sudah.
Gak suka mandi karena selain suhu nya yang luar biasa dingin, bisa sampai menyentuh angka 10°C juga karena kamar mandi di sana itu... horrooorrr.

Dini hari ketika sedang lelap lelapnya tidur, terdengar bunyi meriam menggeleggar. Weits mencekam banget deh berasa ada di daerah konflik, bunyi dar der dor memekakkan telinga. Yap, waktunya alarm stelling kawan.Bunyi sirine meraung raung, lampu barak di matikan, sambil masih mengumpulkan nyawa, saya pun blingsatan mencari perlengkapan yang gak boleh ketinggalan. Teman yang sudah siap siap dan cekatan sih adem ayem aja melenggang, sedangkan saya saking paniknya tempat minum pun ketinggalan, akhirnya ya di hukum, push up 15 x dan lari keliling lapangan di pagi yang dingin bersama beberapa teman, di foto pulak sebagai bukti ketidakdisiplinan haha, tapi seperti biasa dilakukan tanpa beban riang gembira.

Paling gak suka adalah ketika pembekalan materi di Aula Sudirman. Kenapa? Karena kita di paksa menerima materi diantara rasa kantuk yang luar biasa hebatnya. Ngantuknya berjamaah pulak, ingin rasanya gogoleran mendengarkan musik sambil memeluk bantal, tapi apa daya ini aula bukan kamar kosan. Gak enak juga ya jadi tentara, gak bisa tidur siang memeluk bantal.

Acara paporit saya adalah acara jalan jalan atau orientasi medan. Lumayan jauh jarak yang di tempuh membuat kaki gempor gak karuan, tapi seenggaknya bisa liat pemandangan, menikmati gemericik air selokan yang jernih, ngambil tomat di kebun orang, jajan jajan sebentar, pokoknya lumayan deh buat menghilangkan rasa jenuh karena berkutat dengan lokasi yang itu itu saja di dalam lingkungan secata.

Nah pada suatu malam, kami harus menjalani sebuah misi, wajah kami di hiasi oleh sapuan hitam larutan norit. Berasa di film Tour of Duty pokoknya, ingin nya sih tampil keren dan serem ala sersan Zeke dengan mencoreng moreng muka tapi hasilnya malah kayak maling kesiangan habis kecebur got. Malam itu acaranya caraka malam. Berjalan berdua dua, saya dengan Telly, sahabat sehidup sengacir, harus berjarak dengan kelompok lain, gak boleh bergerombol, itu teorinya, tapi prakteknya tetap saja bergerombol dengan cara saling tunggu menunggu.
Kami tau, pocong yang terombang ambing di atas pohon itu perbuatan salah seorang menwa, tapi malam yang gelap, bunyi jangkring yang bersahutan dan bau asap kemenyan yang menusuk hidung mengalahkan akal sehat kami, dan ngacir adalah perbuatan kami selanjutnya.
Melewati perkebunan dan pesawahan dengan suara grok grok pak komandan ala babi nyasar membuat susunan pesan yang harus di hafal kabur semua dari pikiran. Rasa takut akhirnya sukses merusak konsentrasi dan nalar.

Kata pak direktur, tujuan diadakan program ini agar nantinya kita terbiasa berdisiplin ria ketika masa perkuliahan tiba. Dengan sangat menyesal cita cita pak direktur tidak terbukti pada saya, karena hampir tiap semester saya harus bayar kompen akibat sering kuliah kesiangan :D.
Ah pak direktur, malu rasanya hati ini pak hihihihihi *evillaugh.






Saturday, May 3, 2014

IT‘S NOT HARRY POTTER‘S KNOCKTURN ALLEY

Gang ini bukanlah semacam
Knockturn Alley nya mister Harry Potter. Gang ini adalah gang yang selalu saya lewati ketika pulang dari pasar. Gang yang sangat produktif di pagi hari.

Di gang ini pula saya sering merasa kecil diantara himpitan bangunan bangunan permanen yang menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri.

Pagi tadi, saya kembali melewati gang sempit ini.
Kicau burung kenari dari rumah berteras tanah menyambut kemunculan saya sementara bau asap yang keluar dari beberapa knalpot motor yang sedang di panaskan mengusik hidung saya. Udara bersih pagi hari dikalahkan oleh polutan masa kini, sayang sekali.
Seekor burung kakaktua bertengger di pagar salah satu rumah yang terletak persis di sisi jalan yang melandai. Kakaktua berbulu putih itu berjalan hilir mudik sambil mengangguk anggukan kepalanya.
Beberapa anak berkerumun di depan warung kecil, menikmati jajanan limaratusan sambil berceloteh dengan riangnya.

Di depan saya jalan menanjak telah menanti, berharap bisa melenyapkan beberapa kalori. Tiga orang ibu ibu berdaster sedang bergosip di depan kamar kamar kontrakannya. Harum masakan berkelebat lalu berganti dengan bau tak sedap dari kamar kecil yang letaknya entah dimana.

Lalu mata saya pun bersiborok dengan jemuran basah yang baru saja selesai di orbitkan oleh seorang ibu setengah baya, berderet rapi memenuhi pekarangan rumah yang di dalamnya terdapat sebuah pohon delima yang sedang lebat lebatnya.
Sementara di sebelah kiri saya tukang bubur yang sepertinya belum naik haji sedang sibuk melayani pelanggannya.

Perhatian saya pun beralih kepada dua orang bapak muda belia yang mungkin memutuskan untuk menjadi ratu rumah tangga, bersenda gurau sambil menggendong balitanya masing masing dengan sehelai selendang sutra tanda mata dari nya #eh :D.
Seekor ayam jantan dengan gagah mengepakkan sayap nya di atas kamar mandi setengah badan diiringi dengan wangi sabun dan gemericik suara air pancuran yang memanjakan telinga.

Di gang ini pula saya bersua dengan penjual awug, sayur dan pisang keliling. Seorang pemuda yang mengalami sedikit gangguan mental tapi rajin bekerja melengkapi suasana pagi yang sibuk, di sebuah gang, tempat dimana saya bisa merasakan suatu atmosfer keberagaman.

posted from Bloggeroid

Thursday, May 1, 2014

PRISONERS : SIN, TRAUMA AND FAITH

“Pray for the best, but
prepare for the worst“ - Keller Dover

Saat nya nonton “Prisoners“.

Prisoners adalah film drama thriller misteri yang dibintangi oleh si Wolverine “Hugh Jackman“.
Walaupun durasinya terbilang
panjang, tapi film ini gak kehilangan daya tariknya.
Penonton di paksa untuk tetap
terjaga dan berpikir melalui
scene scene yang penuh misteri.

Cerita di awali dengan hilangnya Anna, putri dari Keller Dover (Hugh Jackman) yang berusia 6 tahun. Anna hilang bersama temannya, Joy, putri dari tetangga Keller ketika mereka sedang merayakan hari thanksgiving.
Satu satu nya hal yang membuat curiga adalah sebuah RV yang terparkir manis di jalan dekat rumah mereka. RV itu adalah milik seorang pemuda yang bermental layaknya anak usia 10 tahunan, bernama Alex Jones (Paul Dano). Alex lalu di tangkap oleh detektif yang bernama Loki. Sempat merasa gak rela, mengapa seorang detektif yang luar biasa gigih dalam memecahkan kasus yang misterius harus menyandang nama Loki, dewa aneh yang sangat terkenal dalam dunia Marvel :D.

Detektif yang mempunyai beberapa tatoo di tubuhnya dan sering berkedip ketika dalam keadaan tertekan itu diperankan dengan baik oleh Jake Gyllenhaal, aktor yang pernah beradu akting dengan Dennis Quaid dalam The day after tomorrow.

Karena tidak adanya cukup bukti maka Alex pun di lepaskan oleh pihak kepolisian di bawah pengawasan bibinya yang bernama Holly (Melisa Leo).

Sementara itu Keller merasa frustasi karena kelambanan pihak kepolisian dalam menangani kasus putrinya, padahal Keller yakin bahwa Anna masih hidup. Dibutakan oleh kemarahan dan perasaan gagal melindungi keluarganya, maka Keller pun terjun sendiri ke dalam pencarian putrinya. Keller sangat meyakini bahwa Alex tahu sesuatu tentang penculikan itu, maka dengan bantuan ayahnya Joy (Terrence Howard), Keller menyekap Alex di rumah kosong yang pernah di tinggalinya dulu. Karena Alex tak kunjung mengaku maka siksaan demi siksaan di lancarkan Keller untuk mendapatkan jawaban dari Alex, tapi Alex bergeming.

Film berending cliffhanger ini di sutradarai oleh Denis Villeneuve dan rilis bulan September tahun lalu.
Film yang sangat layak tonton.






posted from Bloggeroid

Tuesday, April 15, 2014

KAYA RASA DI 90 AN

Kemarin selewat dua lewat melihat satu acara di sebuah tipi swasta yang menampilkan wawancara singkat dengan CJR, bukan Christiano Jeung Ronaldo yak, tapi Coboy Junior, itu loh kelompok pokal paporit ABG dan emak2nya yang baru saja ditinggal pergi salah satu anggotanya yang bernama Bastian Tito, eeee wiro sableng ... gurunya sinto gendeng ... eh salah pokus.

Nah saat itu, Kiki salah satu anggota dari CJR berkata bawasannya dia ingin hidup di era 90 an yaitu di era yang kata dia sih penuh dengan tantangan *iya gitu* dan era dimana banyaaaak sekali genre musik baru bermunculan, limpah ruah, swasembada.

Hmmmm ..... ya ya ...

Lalu saya pun berpikir,

Mungkin kiki merasa lebih bergairah ketika harus mencari kaset atau CD seken karena keadaan perekonomian dompetnya sedang melemah sampai di bawah titik mengenaskan, di sepanjang jalan Cihapit, hilir mudik, tungkrang tongkrong, pilah pilih diantara deru debu dan kendaraan yang lewat tiada henti daripada duduk diam mendonlot lagu lagu secara free dari gajetnya sambil memandangi balok balok sinyal yang kadang penuh tapi sering kosongnya.

Mungkin kiki merasa lebih senang karena bisa berdilema ketika harus menunggu acara dikte lirik lagu di radio kesayangan di tepat pukul 10 malam dimana matanya sudah rapet sebelah tapi bayangan nyanyi bareng nuno bettencourt melayang layang di matanya yang sebelah lagi, daripada duduk diam di depan gajetnya untuk mengugling lirik lagu yang dia cari dengan hanya ketik sana tekan sini, beribu ribu lirik lagu langsung muncul di depan matanya, yang sebelah mana? entah lah.

Mungkin kiki merasa lebih bersemangat ketika harus mengantri di telepon umum, wartel atau membongkar kunci telpon rumahnya dengan segala cara demi bisa menelpon seseorang yang ingin dia telpon, bahkan terkadang bela belain menunggu tengah malam tiba ditemani secangkir kopi pahit demi interlokalan dengan tarif yang murah daripada hanya duduk diam di depan gajetnya, skype an, bbm an, wa an, twitter an, fb an etc etc etc ...

Mungkin kiki merasa begitu sempurna ketika di pergelangan tangannya nangkring G shock triple 10, pager motorola di saku jeans nya, walkman sony super gede di dalam tas nya, kalkulator casio fx 3600 di selipan buku bukunya, dan gak ketinggalan buku alamat kecil di dalam dompetnya, daripada merasa bosan paripurna kepada satu buah gajet multitasking nya yang bertipe 4 L alias lu lagi lu lagi.

Mungkin kiki lebih merasakan kepuasan tiada tara karena pengorbanannya yang harus nongkringin salah satu TV swasta terbayar lunas ketika akhirnya dia bisa melihat Pearl Jam, Nirvana, Live, STP, Alanis, bahkan ben tua sekelas Kiss berunplugged ria di acara MTV unplugged dari pada hanya mengerahkan pasukan jempol nya untuk memutar segala macam video yang dia ingin lihat di situs gratisan yusub eh yutub.

Daaaaannn ....

Mungkin kiki ingin merasa lebih kaya rasa ketika playlistnya di penuhi dengan musik musik 90 an yang terkenal dengan keberagamannya daripada hanya berkutat dengan katy perry dan lady gaga.

Ah, tapi ini semua cuma mungkin. Hanya Tuhan dan Kiki yang tau.

Auf wiedersehen sayonara goodbye yuk dadah yuk bay bay.



posted from Bloggeroid